periskop.id - Di tengah perdebatan global mengenai masa depan uang, Kevin Warsh menempati posisi yang jarang diambil pejabat moneter. Ia tidak tampil sebagai pengkritik keras kripto, tetapi juga tidak pernah memosisikan dirinya sebagai pendukung ideologis Bitcoin.
Rekam jejaknya sebagai mantan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat menunjukkan konsistensi dalam satu hal: disiplin moneter dan kepercayaan terhadap institusi.
Ketika Bitcoin dan aset kripto tumbuh di luar sistem keuangan konvensional, Warsh tidak merespons dengan nada panik. Ia memilih membaca fenomena tersebut sebagai gejala. Sikap ini tercermin dalam laporan The Block mengenai pencalonannya, yang menyebut bahwa Warsh tidak merasa terganggu oleh keberadaan Bitcoin dan justru melihatnya sebagai pengingat bagi pembuat kebijakan moneter.
Dalam laporan berjudul Trump names crypto-friendly Kevin Warsh as pick for Fed chair tersebut, Warsh digambarkan memandang Bitcoin sebagai indikator. Bukan indikator harga, melainkan indikator kepercayaan. Ketika aset di luar sistem negara menarik minat luas, ada pesan yang sedang dikirim pasar.
Bitcoin dalam Kerangka Kritik Kebijakan Moneter
Cara Warsh membaca Bitcoin tidak bisa dilepaskan dari kritiknya terhadap kebijakan moneter longgar yang berlangsung lama. Selama lebih dari satu dekade, bank sentral utama dunia mempertahankan suku bunga rendah dan memperluas neraca secara agresif. Lingkungan ini menciptakan limpahan likuiditas yang mendorong pencarian aset alternatif.
Pandangan ini dijelaskan secara eksplisit dalam laporan ForkLog yang membahas sikap Warsh terhadap kripto. Dalam artikel Trump nominates crypto-friendly Kevin Warsh to lead the Fed, disebutkan bahwa Warsh melihat Bitcoin sebagai konsekuensi logis dari kebijakan moneter yang terlalu akomodatif, bukan sebagai inovasi yang berdiri di ruang hampa.
Dalam kerangka tersebut, Bitcoin tidak diperlakukan sebagai penyebab masalah, melainkan sebagai respons pasar terhadap sistem moneter yang dianggap kehilangan disiplin. Warsh tidak menolak logika ini; ia justru menggunakannya sebagai bahan refleksi bagi bank sentral.
Pengakuan yang Tetap Disertai Jarak
Meski mengakui relevansi Bitcoin sebagai fenomena moneter, Warsh tidak melangkah lebih jauh ke wilayah dukungan tanpa syarat. Ia tidak pernah menyebut kripto sebagai kandidat pengganti mata uang negara. Volatilitas harga dan ketidakstabilan nilai tetap menjadi catatan utamanya.
Analisis mengenai posisi ini dirangkum oleh OneSafe dalam artikel Kevin Warsh Fed Chair Crypto Regulations. Artikel tersebut menggambarkan Warsh sebagai figur yang skeptis terhadap klaim kripto sebagai "uang sejati", bahkan menyebut kripto sebagai perangkat lunak yang mencoba mengambil peran uang tanpa fondasi institusional yang kuat.
Bagi Warsh, uang bukan sekadar medium pertukaran berbasis teknologi. Ia adalah kontrak kepercayaan yang dibangun melalui kebijakan konsisten dan otoritas yang kredibel. Dalam konteks ini, kripto dinilai belum memenuhi prasyarat sebagai uang penuh.
Bitcoin sebagai Bahasa Pasar
Salah satu aspek paling khas dari pandangan Warsh adalah caranya membaca Bitcoin sebagai bahasa pasar. Aset ini menyampaikan pesan tentang kegelisahan terhadap inflasi, nilai uang, dan arah kebijakan. Pesan tersebut tidak selalu nyaman, tetapi tetap relevan.
Warsh lebih memilih mengkritik kebijakan moneter yang melahirkan ketidakpercayaan dibandingkan menyerang kripto secara langsung. Fokusnya tertuju pada akar persoalan. Bitcoin diperlakukan sebagai sinyal, bukan ancaman yang harus segera diberangus.
Pendekatan ini membuat posisinya berbeda dari banyak pembuat kebijakan lain. Ia tidak memosisikan kripto sebagai musuh bank sentral, tetapi juga tidak mengangkatnya sebagai solusi absolut.
Respons Pasar terhadap Nama Warsh
Pandangan Warsh yang dikenal ketat dalam urusan moneter tercermin jelas dalam respons pasar. Ketika namanya mencuat sebagai kandidat Ketua Federal Reserve, Bitcoin mengalami tekanan.
Reuters mencatat dalam laporannya, Bitcoin slips as Fed Chair speculation hits risky assets, bahwa harga Bitcoin melemah seiring meningkatnya spekulasi tersebut. Investor mengantisipasi arah kebijakan yang lebih disiplin dan kurang ramah terhadap aset berisiko (risk-on assets).
Reaksi ini menunjukkan bahwa pasar membaca Warsh sebagai simbol kembalinya kehati-hatian moneter. Bitcoin tidak jatuh karena sikap anti-kripto, melainkan karena ekspektasi terhadap perubahan rezim kebijakan makroekonomi.
Kripto, Stablecoin, dan Otoritas Negara
Kehati-hatian Warsh terhadap kripto tidak identik dengan penolakan terhadap inovasi digital. Ia justru lebih kritis terhadap uang digital swasta yang berkembang tanpa kerangka regulasi kuat. Stablecoin dipandang memiliki potensi mengganggu kedaulatan moneter jika tidak diatur dengan ketat.
Laporan KuCoin News menyebut bahwa Warsh relatif lebih terbuka terhadap pengembangan Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC), selama inisiatif tersebut memperkuat posisi dolar AS dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Dalam pandangan ini, teknologi bukan masalah utama. Persoalan terletak pada siapa yang memegang otoritas dan bagaimana kepercayaan publik dijaga.
Pandangan Kevin Warsh terhadap Bitcoin dan kripto tidak dibentuk oleh euforia maupun ketakutan. Ia lahir dari tradisi moneter yang menempatkan stabilitas sebagai tujuan utama.
Bitcoin dibaca sebagai refleksi dari kebijakan, bukan sebagai musuh atau penyelamat.
Di tengah polarisasi wacana kripto, posisi Warsh terasa sunyi. Namun justru dalam kesunyian itu terdapat konsistensi. Bitcoin adalah pesan, dan tugas bank sentral adalah membaca pesan tersebut dengan jernih, bukan menolaknya atau memujanya secara berlebihan.
Tinggalkan Komentar
Komentar