periskop.id - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan resmi Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (6/2). Pertemuan ini disebut oleh Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI sebagai momentum penting untuk memperkuat hubungan bilateral yang selama ini bertumpu pada kerja sama pendidikan dan ekonomi.
Menurut data Departemen of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, hubungan kedua negara menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Mobilitas pelajar, kolaborasi antar kampus, hingga peningkatan nilai perdagangan menjadi indikator utama kedekatan Indonesia dan Australia.
Pilar Pendidikan
Melansir Antara, Jumat (6/2), pendidikan menjadi salah satu fondasi utama kemitraan kedua negara. Pada 2025, tercatat sekitar 24.000 mahasiswa Indonesia menempuh studi di berbagai perguruan tinggi Australia. Secara akumulatif, lebih dari 200.000 warga Indonesia pernah belajar di negeri Kanguru.
“Indonesia adalah salah satu sumber mahasiswa internasional terbesar bagi Australia,” tulis DFAT dalam laporan terbarunya.
Pemerintah Australia setiap tahun menyediakan sekitar 220 beasiswa melalui skema Australia Awards Indonesia, sementara sejumlah universitas besar mulai membuka kampus di Indonesia. Monash University hadir di Jakarta, Western Sydney University di Surabaya, dan Deakin University di Bandung. Kehadiran kampus ini menjadi wujud komitmen Australia dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
Selain itu, program Australia-Indonesia BRIDGE School Partnerships mempertemukan sekolah dari kedua negara untuk berbagi pengalaman, melatih guru, dan memperkuat pembelajaran lintas budaya. Program INOVASI (Innovation for Indonesian School Children) juga memasuki fase ketiga pada 2024–2027 dengan pendanaan A$55 juta, fokus pada peningkatan literasi dan numerasi anak-anak Indonesia.
Di tingkat perguruan tinggi, joint campus dan joint program riset semakin mempererat kolaborasi akademik. Skema beasiswa seperti LPDP-Australia Awards dan Australia-Indonesia Youth Exchange Program turut mendorong pertukaran pemuda serta pengembangan kepemimpinan.
Kerja Sama Ekonomi
Di sektor ekonomi, hubungan kedua negara diperkuat oleh Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang berlaku sejak Juli 2020. Perjanjian ini mendorong peningkatan perdagangan dan investasi secara signifikan. Nilai perdagangan dua arah melonjak dari A$12,91 miliar pada 2020 menjadi A$35,38 miliar pada akhir 2024.
Sepanjang 2024, Australia menjadi mitra dagang ke-9 terbesar bagi Indonesia dengan nilai perdagangan A$16,13 miliar. Indonesia bahkan mencatat surplus perdagangan sebesar A$3,13 miliar terhadap Australia.
Ekspor Indonesia ke Australia naik 14,46 persen dalam lima tahun terakhir, sementara ekspor Australia ke Indonesia tumbuh 17,42 persen. Dari sisi investasi, Australia menanamkan modal sebesar US$1,36 miliar di Indonesia pada 2024, sedangkan investasi Indonesia di Australia mencapai US$1,42 miliar.
Mobilitas masyarakat juga menjadi penggerak ekonomi. Pada periode 2024–2025, sekitar 1,75 juta warga Australia berkunjung ke Indonesia, menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor yang memperkuat hubungan bilateral. Data dari Tourism Research Australia menunjukkan bahwa Bali tetap menjadi destinasi utama, namun tren wisata ke Yogyakarta dan Lombok juga meningkat.
Laporan Asia Education Foundation (2024) menekankan bahwa kerja sama pendidikan Indonesia-Australia berkontribusi pada peningkatan kualitas tenaga kerja di sektor teknologi dan kesehatan. Sementara itu, riset dari Lowy Institute menyebut IA-CEPA sebagai salah satu perjanjian ekonomi paling strategis di kawasan Asia-Pasifik karena membuka akses pasar dan memperluas peluang investasi lintas sektor.
Tinggalkan Komentar
Komentar