periskop.id - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengatakan proyeksi pelemahan ekonomi dan kenaikan inflasi global dari Dana Moneter Internasional (IMF) serta Bank Dunia kurang akurat.
Ia menilai kedua lembaga tersebut merespons dampak konflik Timur Tengah secara berlebihan.
"Institusi-institusi tersebut kemungkinan besar telah bereaksi berlebihan," ujar Bessent. Pernyataan ini disampaikan di Washington, Selasa (14/4), saat menanggapi rilis revisi pertumbuhan ekonomi global seperti dikutip Reuters.
IMF dan Bank Dunia sebelumnya merilis peringatan ancaman perlambatan laju perekonomian dunia. Kedua lembaga ini memproyeksikan lonjakan inflasi tajam menyusul eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Bessent menepis kekhawatiran tersebut dan menunjukkan pandangan optimistis terkait ketahanan ekonomi domestik. Siklus lonjakan harga di AS diprediksi akan berlalu dalam waktu singkat tanpa efek permanen.
Sikap tegas ini memperlihatkan kepercayaan diri pemerintah AS menghadapi guncangan ekonomi eksternal. Kenaikan harga barang dan jasa dinilai hanya bersifat sementara akibat kepanikan pasar energi.
Meski melontarkan kritik keras, Bessent memastikan hubungan kerja sama dengan kedua institusi tersebut tetap solid. Ia memandang arah kebijakan IMF dan Bank Dunia saat ini justru makin sejalan dengan prioritas nasional AS.
Departemen Keuangan AS terbukti masih terus berkolaborasi secara intensif dengan pihak IMF. Sinergi ini berfokus pada perumusan solusi bagi berbagai isu perekonomian krusial di kancah internasional.
Salah satu fokus utama kerja sama bilateral ini menyasar penyelesaian krisis finansial di kawasan Amerika Latin. AS dan IMF kini turun tangan langsung menangani proses pemulihan ekonomi untuk Argentina dan Venezuela.
Di sisi lain, IMF memiliki argumen kuat di balik pemangkasan target pertumbuhan ekonomi mereka. Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyebut momentum perbaikan ekonomi global dari tahun lalu kini terhenti mendadak.
"Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan parah pada fasilitas energi vital di Timur Tengah meningkatkan prospek gangguan besar," kata Gourinchas. Ia menyoroti ancaman krisis tersebut secara serius di tengah disrupsi rantai pasok global.
Perbedaan penilaian risiko antara AS dan IMF kini menjadi sorotan utama pasar keuangan internasional. AS memilih tetap tenang mempertahankan kebijakan pro-pertumbuhan di tengah ramainya peringatan resesi akibat memanasnya geopolitik Timur Tengah.
Tinggalkan Komentar
Komentar