Periskop.id - Maskapai penerbangan KLM Royal Dutch Airlines menyatakan, akan membatalkan 160 penerbangan di Eropa bulan depan, karena kenaikan biaya bahan bakar. Dalam sebuah pernyataan, KLM mengatakan telah melakukan "sejumlah penyesuaian" pada jadwal penerbangannya untuk bulan mendatang.

"Ini menyangkut sejumlah kecil penerbangan di Eropa yang, karena kenaikan biaya avtur, saat ini tidak lagi layak secara finansial untuk dioperasikan," tuturnya dikutip Jumat (17/4). 

Maskapai tersebut sejatinya mengatakan, tidak ada kekurangan bahan bakar jet. Pembatalan tersebut melibatkan 80 penerbangan pulang pergi yang lebih sedikit ke dan dari Bandara Schiphol di Belanda yang mewakili kurang dari satu persen dari operasional di Eropa selama periode tersebut.

Pernyataan tersebut menambahkan, maskapai tersebut tengah memperkirakan periode perjalanan liburan Mei yang sibuk dan sedang berupaya untuk memastikan penumpang dapat mencapai tujuan mereka sesuai rencana.

Ketegangan yang meningkat terkait dengan konflik yang melibatkan Iran telah meningkatkan biaya operasional bagi maskapai penerbangan di seluruh dunia. Beberapa maskapai baru-baru ini mengumumkan pembatalan penerbangan dan penyesuaian jadwal.

Maskapai-maskapai Nigeria misalnya, berencana menghentikan penerbangan mulai 20 April akibat lonjakan harga bahan bakar di tengah perang di Timur Tengah, seperti dilaporkan The Guardian Nigeria.

Mengutip Direktur Asosiasi Operator Penerbangan Nigeria (AON) Abdulmunaf Sarina, surat kabar itu menyebutkan, harga avtur per liter melonjak hampir 300% dari 900 naira menjadi 3.300 naira (dari Rp11.529 menjadi Rp42.272). Kenaikan tersebut membebani operasional maskapai dan berpotensi mengganggu layanan penerbangan domestik di Nigeria.

Fuel Surcharge

Sebelumnya Maskapai penerbangan AirAsia X mengungkapkan telah menaikkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) sekitar 20%, dengan tarif rata-rata naik antara 30-40%. Kenaikan harga ini merupakan imbas perang antara Iran dan Amerika Serikat-Israel yang memengaruhi harga avtur dunia.

“Secara umum, secara keseluruhan, kami telah menambahkan sekitar 20% biaya tambahan pada bahan bakar/avtur. Dari segi tarif, kami cenderung menaikkan sekitar 30% hingga 40% dibandingkan sebelumnya,” kata Chief Commercial Officer AirAsia X Amanda Woo.

Asal tahu saja, harga avtur dunia dilaporkan melonjak tajam per April 2026, menembus kisaran US$150–200 per barel, imbas perang antara Iran dan Amerika Serikat-Israel. Harga ini naik signifikan dari level normal di bawah US$100 per barel. 

Selain melakukan penyesuaian harga, Woo mengatakan pihaknya juga mengoptimalkan jaringan atau konektivitas. Di antaranya melalui pengurangan penerbangan dan penggabungan kapasitas (merging capacity) pada beberapa rute utamanya.

“Di tengah tekanan geopolitik dan gangguan rantai pasok, harga avtur global telah melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2025. Untuk menjaga keberlanjutan operasional, kami melakukan penyesuaian tarif secara terukur, termasuk penerapan fuel surcharge satu kali di seluruh jaringan,” kata Group CEO AirAsia X Bo Lingam.

Bo mengatakan, perusahaan juga terus mengoptimalkan jaringan dengan mengalihkan kapasitas ke rute yang lebih kuat, serta memaksimalkan konektivitas Fly-Thru melalui Kuala Lumpur di Malaysia dan Bangkok di Thailand untuk menangkap permintaan secara lebih efisien.

“Di sisi lain, kami aktif bernegosiasi dengan mitra strategis untuk mengendalikan biaya. Seiring dengan reaktivasi armada secara bertahap, unit cost akan semakin membaik, ditambah dengan penguatan mata uang ASEAN sebagai natural hedge terhadap biaya berbasis dolar AS (USD),” tuturnya.