Periskop.id - Kondisi pasar valuta asing di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis sepanjang satu bulan terakhir.
Berdasarkan data Google Finance per Rabu (15/4) yang diolah oleh Periskop, mayoritas mata uang di kawasan ini mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Indonesia menjadi salah satu negara yang mencatatkan pelemahan cukup signifikan dibandingkan para tetangganya.
Pelemahan nilai tukar rupiah ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal, terutama meningkatnya ketidakpastian geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset aman atau safe haven.
Selain itu, kebijakan moneter AS yang tetap ketat memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang di kawasan Asia Tenggara.
Performa Mata Uang ASEAN: Thailand dan Singapura Memimpin
Di tengah tren pelemahan regional, laporan yang dihimpun dari Google Finance menunjukkan bahwa hanya dua mata uang yang berhasil menunjukkan taringnya dengan mengalami apresiasi terhadap dolar AS dalam periode 15 Maret hingga 15 April 2026.
Thailand memimpin posisi terkuat dengan mata uang baht yang menguat sebesar 0,99%. Jika pada pertengahan Maret baht berada di level 32,35 per dolar AS, kini nilainya menguat ke angka 32,03.
Langkah ini diikuti oleh dolar Singapura yang juga mencatatkan apresiasi sebesar 0,78% ke level 1,27 per dolar AS. Ketangguhan dua mata uang ini mencerminkan fundamental ekonomi dan arus modal masuk yang relatif stabil di kedua negara tersebut.
Posisi Relatif Rupiah Indonesia: Tekanan yang Makin Nyata
Berbanding terbalik dengan Thailand dan Singapura, rupiah Indonesia justru masuk dalam zona depresiasi yang cukup dalam. Mengacu pada data pembanding antara 15 Maret 2026 dan 15 April 2026, nilai tukar rupiah terpantau melemah sebesar 1,09%.
Selain Indonesia, negara-negara lain seperti Kamboja, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam juga harus rela mata uangnya terdepresiasi di bawah 1%.
Pada medio Maret 2026, rupiah tercatat masih berada di level Rp16.952,10 per dolar AS. Namun, memasuki pertengahan April 2026, posisi rupiah telah merosot ke angka Rp17.136,20.
Pelemahan ini menempatkan Indonesia pada posisi kedua terbawah di ASEAN dalam hal performa mata uang, hanya setingkat lebih baik daripada Laos. Penembusan angka psikologis Rp17.100 ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku usaha dan pengamat ekonomi nasional.
Daftar Lengkap Perubahan Mata Uang ASEAN (15 Maret – 15 April 2026)
Berikut adalah rincian data performa mata uang di kawasan ASEAN berdasarkan urutan perubahan persentase dari yang paling tangguh hingga yang paling lemah per 15 April 2026:
| Mata Uang | Negara | Per USD (15 Mar 2026) | Per USD (15 Apr 2026) | Perubahan | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| Baht | Thailand | 32,35 | 32,03 | -0,99% | Apresiasi |
| Dolar Singapura | Singapura | 1,28 | 1,27 | -0,78% | Apresiasi |
| Riel | Kamboja | 4.006,00 | 4.014,16 | 0,20% | Depresiasi |
| Dong | Vietnam | 26.260,00 | 26.325,00 | 0,25% | Depresiasi |
| Ringgit | Malaysia | 3,93 | 3,95 | 0,51% | Depresiasi |
| Peso | Filipina | 59,66 | 60,06 | 0,67% | Depresiasi |
| Dolar Brunei | Brunei | 1,26 | 1,27 | 0,79% | Depresiasi |
| Rupiah | Indonesia | 16.952,10 | 17.136,20 | 1,09% | Depresiasi |
| Kip | Laos | 21.350,00 | 21.983,43 | 2,97% | Depresiasi |
Tinggalkan Komentar
Komentar