Periskop.id – Iran dan Oman dikabarkan semakin dekat mencapai kesepakatan sementara untuk memulihkan lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz. Namun, rencana pembagian jalur dan pengenaan biaya layanan masih menjadi sumber perbedaan pandangan antara Teheran dan Amerika Serikat.

Berdasarkan skema yang sedang dibahas, kapal yang memasuki Teluk Persia akan melewati jalur di dekat pantai Iran dan berada di bawah pengawasan Teheran. Sementara kapal yang keluar dari Teluk akan menggunakan jalur menuju perairan Oman.

Sumber Iran yang terlibat dalam pembicaraan mengatakan kepada Reuters, dikutip Selasa (4/8), Teheran menginginkan kendali atas kapal yang masuk, sekaligus akses informasi terhadap kapal yang keluar melalui jalur Oman. Iran juga ingin tetap memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi apabila dianggap perlu.

Rencana tersebut menunjukkan adanya pelunakan posisi Iran. Sebelumnya, Teheran menginginkan kendali terhadap pelayaran dari kedua arah. Namun, Iran kemudian menawarkan skema pembagian, meski tetap meminta pengawasan terhadap seluruh pergerakan kapal.

Iran dan Oman Bahas Biaya Layanan

Laporan The New York Times menyebut, kapal tidak akan dikenai pungutan tol. Namun, Iran dan Oman mempertimbangkan penerapan “biaya layanan” untuk membiayai pengamanan kapal kargo dan tanker, penanganan dampak lingkungan, serta kebutuhan personel.

Pendapatan dari biaya tersebut disebut akan dibagi rata antara Iran dan Oman. Meski demikian, belum ada pengumuman resmi mengenai besaran biaya, mekanisme pembayaran, maupun kapan aturan itu akan mulai diterapkan.

Gagasan mengenai biaya pelayaran sebenarnya telah dibahas sejak beberapa bulan terakhir. Oman sebelumnya menawarkan skema kontribusi sukarela dari perusahaan pelayaran untuk mendukung keselamatan navigasi, perlindungan lingkungan, serta operasi pencarian dan penyelamatan.

Skema itu disebut menyerupai pengelolaan Selat Malaka, ketika Indonesia, Malaysia, dan Singapura menerima kontribusi sukarela dari pengguna jalur pelayaran untuk membiayai layanan navigasi dan keselamatan.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi sebelumnya mengatakan Iran dan Oman sedang menyusun aturan bersama untuk mengawasi pergerakan kapal.

“Kami sedang menyusun protokol bagi Iran dan Oman untuk mengawasi transit di Selat Hormuz,” ujar Gharibabadi.

Menurutnya, pengawasan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghalangi pelayaran komersial.

“Ketentuan ini bukan berarti pembatasan, melainkan bertujuan mempermudah dan menjamin keselamatan pelayaran serta memberikan layanan yang lebih baik bagi kapal,” tambahnya.

Amerika Serikat Menolak Pungutan

Amerika Serikat membantah bahwa kapal yang melintasi Selat Hormuz harus memperoleh persetujuan Iran atau membayar pungutan tertentu.

Seorang pejabat AS mengatakan jalur sementara di Selat Hormuz tidak memerlukan persetujuan Teheran. Washington juga menilai selat tersebut merupakan jalur perairan internasional yang seharusnya dapat dilintasi tanpa tol, biaya wajib, maupun pembatasan sepihak.

Pejabat AS sebelumnya menegaskan kesepakatan yang sedang dibicarakan tidak mencakup tol atau pungutan bagi kapal. Washington juga menolak pengelolaan yang memberi Iran kendali berlebihan terhadap lalu lintas internasional.

Perbedaan itu menjadi salah satu hambatan utama dalam perundingan. Iran menilai pengawasan kapal diperlukan untuk kepentingan keamanan nasional setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Sebaliknya, AS ingin pelayaran kembali pada kondisi sebelum perang, ketika kapal dapat melintas tanpa pembayaran dan izin dari Iran.

“Tehran is unlikely to change its position,” kata sumber senior Iran yang terlibat dalam pembicaraan, menegaskan kecilnya kemungkinan Teheran kembali mengubah tuntutannya.

Belum Cukup untuk Membuka Selat Hormuz Sepenuhnya

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pembicaraan dengan Oman telah memasuki tahap akhir. Namun, kesepakatan kedua negara belum tentu langsung membuat Selat Hormuz kembali beroperasi secara normal.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan Teheran tidak sedang berunding langsung dengan AS. Menurutnya, pembicaraan saat ini hanya dilakukan bersama Oman mengenai pembentukan jalur aman sementara.

Baghaei juga mengatakan kesepakatan dengan Oman saja belum cukup untuk membuka kembali selat tersebut selama tindakan yang disebut Iran sebagai agresi AS masih berlanjut.

Ketidakpastian itu terlihat dari rendahnya lalu lintas kapal. Data pelacakan Kpler menunjukkan hanya enam kapal, terdiri atas tiga tanker dan tiga kapal pengangkut barang curah, yang melewati Selat Hormuz pada Senin, 3 Agustus 2026.

Seluruh kapal tersebut menggunakan jalur yang disetujui Iran. Namun, jumlah sebenarnya dapat lebih tinggi karena sebagian kapal kemungkinan berlayar dengan perangkat pelacak dimatikan.

Selat Hormuz Penting Bagi Pasokan Energi Dunia

Kesepakatan Iran dan Oman menjadi perhatian dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting. Perairan selebar sekitar 34 kilometer itu menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia.

Data Badan Informasi Energi AS menunjukkan sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz pada 2023. Angka tersebut setara dengan sekitar 20% konsumsi minyak dan produk petroleum dunia. Sekitar seperlima perdagangan gas alam cair global juga melewati jalur yang sama.

Pasar Asia menjadi pihak yang paling berkepentingan terhadap pemulihan pelayaran. EIA memperkirakan 89% minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz pada semester I 2025 dikirim menuju pasar Asia, terutama China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Karena itu, kesepakatan sementara Iran dan Oman dapat membantu memulihkan distribusi energi dan menekan biaya pengiriman. Namun, rencana tersebut masih menghadapi persoalan besar terkait kewenangan pengawasan, keamanan kapal, dan legalitas biaya layanan.

Sejumlah pejabat Pentagon juga dilaporkan khawatir kesepakatan itu akan dipandang sebagai konsesi kepada Iran. Hingga kini, belum ada kepastian apakah kompromi tersebut cukup kuat untuk mencegah serangan baru dan memulihkan pelayaran secara penuh.