banner-sheroes-yoga
Internasional

Serangan Iran Lumpuhkan Data Center AWS di Bahrain

AWS mengonfirmasi kehilangan permanen data pelanggan di Bahrain dan UAE, enam bulan setelah serangan drone dan rudal Iran melumpuhkan pusat data mereka.

Data Center Asia Tenggara Bergeser: Malaysia Terdepan, Indonesia Menyusul
Ilustrasi pusat data (data center). Envato/DC_Studio.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Amazon Web Services (AWS) mengonfirmasi kehilangan permanen sebagian data pelanggan yang tersimpan di pusat data Bahrain dan Uni Emirat Arab. Pengakuan itu muncul enam bulan setelah serangan drone Iran melumpuhkan sejumlah fasilitas tersebut.

Konfirmasi tersebut disampaikan lewat pembaruan dasbor resmi AWS. Perusahaan menyebutkan pihaknya tidak lagi bisa mengakses sumber daya dan data yang tersimpan di beberapa pusat data yang rusak akibat perang.

"Amazon Web Services tidak dapat memulihkan akses ke sumber daya dan data yang dihosting di beberapa pusat data yang rusak akibat perang," tulis AWS dalam pembaruan dasbor resminya di kanal layanan, Senin (15/9).

Kehilangan data permanen ini terjadi di salah satu dari tiga zona ketersediaan AWS di Uni Emirat Arab, yakni zona mec1-az2. Setiap zona ketersediaan dilayani oleh satu atau lebih pusat data Amazon, dan perusahaan masih berupaya memulihkan sumber daya di dua zona lainnya di negara itu.

Kondisi di Bahrain justru lebih parah. AWS menyatakan tidak bisa memulihkan akses ke sumber daya dan data di ketiga zona ketersediaan yang ada di negara tersebut.

"Kerusakan pada infrastruktur kami meluas ke beberapa zona ketersediaan dan melebihi kemampuan yang dirancang untuk ditahan oleh layanan regional dan multi-AZ kami," demikian pernyataan AWS yang dikutip Ars Technica.

Sebelum pengakuan ini, AWS sempat menangguhkan penagihan pelanggan di wilayah yang terdampak di Bahrain dan Uni Emirat Arab. Perusahaan juga dilaporkan memberikan kredit senilai US$150 juta kepada pelanggan setelah serangan awal Iran pada Maret lalu.

Drone Iran pertama kali menyerang pusat data Amazon di Bahrain dan Uni Emirat Arab pada 1 Maret, di hari-hari awal perang yang dipicu serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. AWS langsung mendesak pelanggan memindahkan sumber daya ke wilayah cloud lain dan memakai cadangan jarak jauh.

Serangan lanjutan Iran pada 1 April kembali menargetkan pusat data Amazon di Bahrain. Pembaruan AWS mengakui adanya gangguan di zona ketersediaan kedua wilayah tersebut, meski sebagian besar pelanggan yang terdampak sudah memindahkan beban kerja komputasi awan mereka ke tempat lain.

Pukulan paling berat datang pada 24 Juli, saat Korps Garda Revolusi Islam Iran melancarkan serangan rudal yang secara khusus menyasar struktur pusat data Amazon yang masih tersisa di Bahrain. Kerusakan itu dikonfirmasi secara independen lewat citra satelit.

Perang AS-Israel dengan Iran sendiri telah berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas, ditambah krisis energi global yang meningkat akibat serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb. Kondisi ini justru mendorong minat dunia terhadap pembangkit listrik tenaga terbarukan, seperti panel surya di atap rumah.

"Kami tetap berkomitmen untuk mendukung pelanggan kami di Bahrain dalam jangka panjang dan akan memberikan informasi terbaru lebih lanjut pada awal tahun 2027," kata AWS.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Amazon Web Services (AWS), AS-Israel Serang Iran, dan perang iran dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.