periskop.id - Status Selat Hormuz kembali memanas seiring latihan militer dan ketegangan geopolitik yang menyelimutinya. Dikenal sebagai titik penyempitan transit minyak terpenting di dunia, selat ini merupakan jalur tunggal bagi seperlima pasokan minyak global. Namun, di balik angka-angka raksasa itu, terdapat kerumitan hukum internasional dan ketergantungan ekstrem negara-negara Asia yang menjadikannya titik paling rentan di peta dunia. Mari kita bedah mengapa selat selebar 33 kilometer ini bisa membuat ekonomi global terguncang hebat.

Mengapa Celah Kecil Ini Menjadi Rebutan Dunia?

Secara geografis, Selat Hormuz adalah keajaiban sekaligus tantangan. Terletak di antara Oman dan Iran, titik tersempit selat ini hanya berjarak sekitar 33 kilometer. Namun, jangan salah sangka, jalur aman yang bisa dilalui kapal tanker raksasa jauh lebih sempit, yakni hanya sekitar 3 kilometer untuk masing-masing arah. Badan Informasi Energi AS (EIA) menjuluki kawasan ini sebagai titik penyempitan transit minyak terpenting di dunia. Setiap harinya, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan bahan bakar melintasi jalur ini. Tidak hanya minyak, Qatar yang merupakan raksasa gas alam cair (LNG) juga menggantungkan seluruh ekspornya pada celah sempit ini. Tanpa Selat Hormuz, roda industri dunia bisa berhenti berputar dalam sekejap.

Siapa Pemilik Sah Selat Hormuz?

Secara teritorial, Iran dan Oman memegang kendali karena garis pantai mereka bersentuhan langsung dengan perairan tersebut. Sesuai hukum maritim, negara pantai punya hak hingga 12 mil laut dari daratannya. Namun, Selat Hormuz bukan milik eksklusif satu negara saja. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS), jalur ini berstatus sebagai jalur internasional dengan hak transit passage. Artinya, kapal komersial maupun militer dari negara mana pun berhak melintas tanpa gangguan selama tujuannya adalah transit yang cepat. Inilah yang membuat situasi sering memanas. Iran sering kali melakukan pengawasan ketat dan latihan militer sebagai bentuk unjuk kekuatan, sementara Amerika Serikat melalui Komando Pusatnya (CENTCOM) menyatakan komitmennya untuk menjaga keselamatan navigasi, mendorong perilaku profesional di laut, serta mencegah potensi eskalasi yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.

Asia: Konsumen Terbesar yang Paling Terancam

Negara-negara Asia berpotensi menjadi pihak yang paling terdampak jika terjadi gangguan pasokan di Selat Hormuz. Data menunjukkan bahwa sekitar 82% minyak yang melewati selat ini dikirim ke pasar Asia. Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan adalah pelanggan utama yang menyerap hampir 70% dari total arus minyak tersebut. Bagi negara-negara ini, gangguan di Selat Hormuz bukan sekadar isu politik, melainkan ancaman serius bagi ketahanan energi nasional. Kenaikan harga minyak mentah akibat hambatan di selat ini dapat memicu inflasi, menaikkan biaya logistik, dan ujung-ujungnya menaikkan harga barang kebutuhan pokok.

Mungkinkah Ada Jalur Alternatif Selain Hormuz?

Melihat risiko yang begitu besar, negara-negara Arab Teluk tidak tinggal diam. Arab Saudi telah membangun pipa minyak mentah Timur-Barat dengan kapasitas 5 juta barel per hari, sementara Emirat Arab memiliki pipa menuju terminal Fujairah di Teluk Oman. Tujuannya jelas, yaitu untuk menyalurkan minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz yang rawan konflik. Namun, realitasnya tidak semudah itu. Total kapasitas jalur alternatif ini diperkirakan hanya mampu menampung sekitar 2,6 juta barel per hari, sangat kecil jika dibandingkan dengan 20 juta barel yang melintas lewat laut. Kesimpulannya, hingga saat ini belum ada solusi teknologi atau infrastruktur yang benar-benar bisa menggantikan peran Selat Hormuz. Selat ini tetap menjadi nadi tunggal yang tak tergantikan bagi ekonomi global.