Periskop.id - Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Pencegahan dan Rehabilitasi Kardiovaskular Rumah Sakit Universitas Indonesia (RS UI) dr. dr. Hary Sakti Muliawan, Ph.D., Sp.JP, Subsp.PRKv.(K) menyatakan, ibu hamil menjadi pasien yang berisiko terkena hipertensi paru.

“Ibu hamil itu memiliki risiko menjadi pasien hipertensi paru biasanya karena gumpalan darah yang bisa terjadi pascapersalinan,” kata dokter yang juga Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia itu dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (27/11). 

Selain itu, lanjut dokter yang juga anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia itu mengatakan, ibu hamil memang kerap merasa sesak napas pada trimester tertentu. Namun kondisi ini bila berlanjut hingga setelah melahirkan, maka sebaiknya melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung atau paru.

Wanita diakuinya menjadi pasien yang kerap menjadi pasien hipertensi paru. Selain karena faktor genetik seperti penyakit jantung bawaan, penyakit autoimun, gangguan pada paru, namun juga berkaitan dengan faktor hormonal.

Perubahan yang terjadi pada wanita hamil, kata dia, memicu imunitas sehingga terjadi hipertensi paru atau hipertensi pulmonal. Ia menambahkan, wanita menjadi kaum yang lebih lemah secara genetik terhadap gangguan imun sehingga selaras dengan gangguan autoimun.

“Makanya pada populasi autoimun, seperti lupus itu pun sama wanita lebih banyak dibandingkan laki-laki,” serunya.

Lebih lanjut, pascamelahirkan, wanita mengalami perubahan struktur jantung. Kondisi ini menyebabkan peningkatan gumpalan darah atau darah mengental, menyumbat aliran darah paru yang akhirnya menjadi penyebab umum hipertensi paru.

Hipertensi paru merupakan gangguan berupa tekanan darah tinggi yang terjadi pada pembuluh darah atau arteri paru yang menyebabkan jantung kanan bekerja lebih keras, untuk memompa darah ke paru-paru.

Gangguan ini menyebabkan penyumbatan, penyempitan hingga merusak pembuluh darah paru yang pada akhirnya membuat pasien menjadi sesak napas, nyeri dada, kelelahan usai beraktivitas ringan hingga pusing.

Pemeriksaan Awal

Hary pun menegaskan pentingnya melakukan pemeriksaan awal terkait hipertensi paru. Menurutnya, gejalanya sering menyerupai penyakit umum seperti asma atau gangguan jantung, sehingga banyak pasien menunggu bertahun-tahun sebelum mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. 

“Banyak yang datang dalam kondisi sudah berat karena gejala awal seperti sesak napas yang semakin berat saat beraktivitas dan mudah lelah. Pada lah itu bisa menjadi tanda awal hipertensi paru,” imbuhnya.

Tak hanya masyarakat secara umum, namun tenaga medis juga tak sepenuhnya memahami mengenai penyakit ini. Adapun gejala awal penyakit ini meliputi sesak napas usai beraktivitas ringan seperti menaiki anak tangga, kelelahan terus menerus, nyeri dada, batuk darah, pusing hingga bengkak pada kaki hingga pada tubuh secara menyeluruh.

Ia menyoroti, di Indonesia penyakit ini di Indonesia terdiagnosis setelah dialami secara menahun alias pasien sudah mengalami kondisi yang memburuk. Pasien dengan hipertensi paru kerap mengalami kesulitan saat beraktivitas seperti berdiri dengan durasi yang lama, karena aliran darah menjadi lebih berat.

Ia pun berharap agar masyarakat lebih memahami dan memberikan perhatian bagi pasien hipertensi paru. Terutama saat berada di kendaraan umum salah satunya dengan memberikan kursi duduk bagi pasien hipertensi.

“Untuk orang-orang ang mengenali hipertensi paru ya bisa memberikan prioritas ya pada pasien untuk bisa duduk, karena kalau berdiri terlalu lama akan menimbulkan beban pada pasien sehingga nanti pasiennya akan sesak,” imbuhnya. 

Dukungan lain juga diperlukan bagi caregiver seperti pasangan, keluarga atau teman agar pasien dapat semangat menjalani terapi pengobatan. Ia juga menyerukan, hipertensi paru bukan penyakit menular sehingga bukan hal yang sebaiknya dihindari melainkan didukung.

Pada kesempatan yang sama Managing Director MSD Indoneisa George Stylianou mengatakan, masih ada pasien hipertensi paru yang berjuang hanya untuk sekedar bernapas. Ia percaya, tidak ada seorang pun yang seharusnya menghadapi perjuangan itu sendirian.

“Karena itu kami berkomitmen untuk mendukung Yayasan Hipertensi Paru Indonesia dan para pasien dalam upaya meningkatkan kualitas dan harapan hidup sekaligus mendorong edukasi berkelanjutan agar semakin banyak orang memahami dan peduli terhadap penyakit ini,” pungkasnya.