Pembiayaan Jantung Tembus Rp17,3 Triliun, BPJS Kesehatan Dorong Penguatan FKTP
BPJS Kesehatan mencatat pembiayaan penyakit jantung mencapai Rp17,3 triliun pada 2025 dan mendorong penguatan FKTP.

Periskop.id - BPJS Kesehatan mencatat pembiayaan layanan penyakit jantung mencapai Rp17,35 triliun sepanjang 2025. Kondisi tersebut mendorong penguatan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) untuk memperbesar upaya promotif dan preventif.
Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengatakan penyakit jantung menjadi penyakit katastropik dengan pembiayaan terbesar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
"Khusus jantung itu 17,35 triliun rupiah, sebetulnya cathlab hanya 3,5 triliun atau kadang-kadang sampai 4 triliun datanya ya. Jadi lebih dari 138 ribu kasus cathlab tahun 2025, meningkat 2 kali dibandingkan tahun 2021," kata Prihati di Cimahi, Rabu (16/9).
Menurut Prihati, tingginya pembiayaan tersebut perlu diimbangi dengan pencegahan dan pengendalian penyakit sejak tingkat layanan primer. Ia menilai penguatan FKTP dapat membantu menekan kasus jantung sebelum pasien membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Dalam catatan BPJS Kesehatan, sebagian besar pembiayaan pada 2025 masih terserap untuk layanan rumah sakit atau kuratif. Prihati menyebut alokasi untuk layanan rumah sakit mencapai 87,1% dari total pembiayaan.
Sementara itu, menurut Prihati, FKTP hanya memperoleh porsi 12,9% atau sekitar Rp24,7 triliun pada periode yang sama. Kondisi tersebut disebut menunjukkan perlunya penguatan layanan primer agar fungsi promotif dan preventif berjalan lebih optimal.
Prihati mengatakan FKTP juga memiliki sejumlah instrumen untuk mengendalikan penyakit, mulai dari kapitasi berbasis kinerja hingga pengelolaan penyakit kronis. Menurutnya, layanan primer juga berperan dalam menentukan rujukan nonspesialis sesuai kebutuhan pasien.
Untuk penyakit jantung, Prihati mendorong seluruh FKTP memiliki elektrokardiogram (EKG) agar gangguan irama jantung dapat terdeteksi lebih awal. Ia juga meminta dokter umum memiliki kemampuan mengenali fibrilasi atrium atau atrial fibrilasi.
"Jadi saya menyarankan untuk di FKTP seluruhnya 23 ribu itu punya EKG. Jadi dokter umum harus mampu membaca atrial fibrilasi, irama yang tidak teratur," katanya.
Menurut Prihati, fibrilasi atrium merupakan salah satu faktor risiko utama stroke. Ia mengatakan deteksi sejak tingkat FKTP dapat membuka peluang penanganan lebih awal sebelum kondisi pasien berkembang menjadi lebih berat.
"Kadang-kadang di negara kita ini atrial fibrilasi diketahui setelah terjadi stroke. Stroke baru dicari, oh ternyata AF. Nah ini yang kita kurangi angka-angka seperti itu supaya promotif preventif lebih kuat, biaya kesehatan akan lebih rendah," ujarnya.
Selain memperkuat FKTP, Prihati mengatakan BPJS Kesehatan mendorong perubahan pola pelayanan kesehatan dari pendekatan berbasis volume menuju berbasis nilai atau value based. Menurutnya, pendekatan tersebut menempatkan hasil kesehatan pasien dan ketepatan tindakan sebagai perhatian utama.
Dalam layanan jantung, Prihati mencontohkan tindakan medis perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Ia mengatakan serangan jantung harus segera ditangani, sementara keputusan penggunaan stent perlu mempertimbangkan tingkat penyempitan aliran darah.
Prihati juga menekankan pentingnya perubahan kebiasaan masyarakat sebagai bagian dari penguatan promotif dan preventif. Menurutnya, aktivitas fisik, pola makan sehat, dan tidak merokok perlu menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
"Kalau misalkan promotif preventif kuat, maka kegiatan-kegiatan seperti olahraga itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Makan makanan yang lebih sehat, tidak merokok, semuanya itu sebetulnya sudah menjadi kebiasaan perorangan," katanya.
Ia menjelaskan penguatan upaya promotif dan preventif diarahkan untuk menjaga masyarakat tetap sehat sekaligus mengurangi kebutuhan terhadap layanan kuratif. Menurut Prihati, langkah tersebut diperlukan karena perawatan kuratif membutuhkan pembiayaan yang lebih besar.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai BPJS Kesehatan dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.