Periskop.id - Isu burnout akibat beban kerja berlebih sudah bertahun-tahun menjadi perhatian dunia profesional. Namun, belakangan ini muncul persoalan kantor lain yang tak kalah berbahaya bagi karyawan maupun perusahaan, yakni boreout.

Melansir Spectrum News, fenomena boreout berbeda secara mendasar dari burnout. Jika burnout dipicu oleh rasa stres akibat tumpukan pekerjaan yang terlalu banyak, boreout justru terjadi ketika karyawan merasa bosan karena kurang diberi tantangan, kurang dihargai, atau terputus dari tujuan utama dalam pekerjaannya.

Ini sekilas terdengar membingungkan. Di tengah era yang penuh tekanan, gejolak pemutusan hubungan kerja akibat otomatisasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga kebijakan wajib kembali bekerja dari kantor, fenomena merasa bosan di tempat kerja justru kian mencuat.

Istilah boreout pertama kali dicetuskan hampir 20 tahun lalu melalui buku berjudul Diagnose Boreout karya dua konsultan bisnis asal Swiss, Peter Werder dan Phillippe Rothlin, yang terbit pada 2007.

Kondisi ini bukan sekadar rasa bosan biasa. Sebagaimana diulas oleh Forbes, boreout dialami oleh pekerja yang tetap terlihat sibuk. 

Mereka rajin menghadiri rapat, mengisi laporan harian, dan menyelesaikan tugas tepat waktu, namun di dalam hati merasa seluruh aktivitas tersebut tidak memiliki makna atau dampak yang nyata.

Terjebak Penilaian Metrik dan Ancaman Era AI

Salah satu pemicu utama boreout adalah budaya perusahaan yang terlalu fokus mengukur kuantitas aktivitas dibanding nilai kontribusi nyata. 

Karyawan sering kali dinilai berkinerja baik hanya karena cepat membalas pesan, rajin hadir rapat kerja, dan rutin memenuhi dokumentasi administrasi, tanpa pernah diuji apakah rutinitas itu benar-benar memajukan bisnis.

Kondisi tersebut membuat pekerja mengejar metrik kesibukan semata. Mereka terlihat aktif dari luar, tetapi merasa hampa dari dalam karena kesulitan menjelaskan nilai dari pekerjaan yang mereka lakukan.

Kehadiran teknologi AI turut mempertegas rasa hampa tersebut. Tugas-tugas kecil yang dulunya membuat orang terlihat sibuk, seperti menyusun draf tulisan, merangkum dokumen, hingga mengolah data sederhana, kini dapat dirampungkan dalam sekejap oleh mesin.

Bagi pekerja yang sudah sejak awal meragukan makna pekerjaannya, otomatisasi AI memunculkan pertanyaan mendasar mengenai seberapa penting keberadaan fungsi mereka di dalam organisasi. 

Kebanyakan pekerja tak bisa mengutarakannya secara terbuka karena khawatir dianggap tak lagi berguna bagi perusahaan.

Kerugian Produktivitas Global akibat Minimnya Keterikatan Kerja

Pada dasarnya, pekerja tak hanya mencari kemudahan. Mayoritas orang mendambakan kesempatan untuk berkembang, mengasah keterampilan, dan mengetahui bahwa kontribusi harian mereka terhubung dengan tujuan perusahaan yang lebih besar.

Ketika hari-hari kerja hanya dipenuhi oleh tugas administratif tanpa nilai yang jelas, energi karyawan perlahan meredup. Rasa lelah yang muncul bukan akibat bekerja terlalu keras, melainkan lelah karena terus-menerus melakukan sesuatu yang terasa tidak penting.

Dampak dari hilangnya makna dalam bekerja ini tercermin dalam temuan riset global. Laporan State of the Global Workplace 2026 yang dirilis oleh Gallup menunjukkan bahwa tingkat keterikatan atau engagement karyawan di seluruh dunia pada 2025 hanya menyentuh angka 20%. 

Angka tersebut menjadi level terendah sejak 2020 dan diperkirakan memicu kerugian produktivitas global hingga mencapai US$10 triliun.