banner-sheroes-yoga
Keuangan

BI: Literasi Keuangan Rendah Hambat Akses Kredit UMKM

Bank Indonesia soroti rendahnya kemampuan manajemen dan literasi keuangan UMKM yang bikin akses pembiayaan formal masih seret.

Gedung Bank Indonesia, Bank Indonesia, BI, Gedung BI
Suasana kompleks Bank Indonesia di Jakarta, Senin (13/4/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Bank Indonesia (BI) menilai peningkatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) jadi pekerjaan rumah yang harus segera digarap. Tanpa perbaikan itu, sektor UMKM disebut bakal terus kesulitan mengakses pembiayaan formal dari perbankan.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menilai banyak pelaku UMKM, terutama startup yang digarap generasi muda, punya inovasi tinggi. Namun secara umum, mereka masih menghadapi kendala di sisi manajemen usaha dan pemahaman keuangan dasar.

"Secara umum, pelaku UMKM masih memiliki kemampuan manajemen dan literasi keuangan yang relatif rendah," tutur Destry dalam agenda asesmen BI dalam mendorong pembiayaan, Jumat (24/7).

Menurut Destry, rata-rata pemahaman pelaku UMKM soal pencatatan keuangan, laporan laba rugi, hingga neraca usaha masih perlu diperbaiki. Ia menekankan, kemampuan mengelola keuangan yang baik akan membuka jalan lebih lebar menuju pembiayaan formal.

Data yang dipaparkan Destry menunjukkan pertumbuhan kredit UMKM hingga Juni 2026 baru menyentuh sekitar 1%. Angka itu jauh tertinggal dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan yang mencapai 12,6%.

Destry menyebut, kesenjangan tersebut membuat banyak pelaku UMKM masih bergantung pada pembiayaan sektor informal. Padahal, biaya pinjaman dari jalur informal jauh lebih mahal ketimbang pembiayaan perbankan.

Kondisi itu, menurutnya, menegaskan urgensi program peningkatan kapasitas atau capacity building bagi pelaku UMKM. Langkah tersebut dinilai jadi kunci agar UMKM naik kelas dan layak mendapat pembiayaan formal.

Destry menambahkan, pemberdayaan UMKM tidak bisa dikerjakan satu pihak saja. Ia menyebut perlu ada sinergi antara pemerintah, regulator seperti BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dunia usaha, media, hingga seluruh pemangku kepentingan terkait.

Sinergi lintas pihak ini, menurut Destry, jadi syarat agar UMKM bisa berkembang lebih cepat sekaligus berdaya saing. Ia berharap kolaborasi tersebut mampu mempercepat perbaikan literasi keuangan yang selama ini jadi kendala utama.

Pernyataan Destry disampaikan dalam agenda asesmen yang digelar BI untuk memetakan langkah mendorong pembiayaan bagi sektor UMKM. Asesmen itu jadi bagian dari upaya bank sentral memahami akar masalah rendahnya penyaluran kredit ke pelaku usaha kecil.

"Dengan sinergi tersebut, kita berharap UMKM semakin kuat dan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan," tandas Destry.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Destry Damayanti, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.