Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga komoditas bawang putih tengah mengalami tren kenaikan. Harga secara nasional saat ini mencapai Rp39.810 per kilogram pada minggu keempat Januari 2026.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, rata-rata harga bawang putih pada minggu keempat Januari 2026 telah berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen yang ditetapkan sebesar Rp38.000 per kilogram.
"Memang sudah ada secara nasional tren kenaikan harga. Harga bawang putih di bulan Desember adalah Rp39.030 per kilogram. Di bulan Januari sampai minggu keempat, harga rata-rata bawang putih saat ini sudah mencapai Rp39.810 per kilogram," kata Amalia di Jakarta, Selasa (27/1).
Dia menjelaskan, kenaikan harga ini telah terjadi sejak Desember 2025. Kenaikan harga tersebut terjadi terutama di wilayah Kabupaten Natuna, Halmahera Selatan, Flores Timur, Rote Ndao, Lombok Tengah dan lainnya.
Kenaikan harga bawang putih terjadi di 57,78% wilayah di Indonesia dan berada di 208 kabupaten/kota. Harga tertinggi mencapai Rp100 ribu per kilogram, yang berada di Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Intan Jaya, dan Kabupaten Pegunungan Bintang.
Sementara itu, komoditas bawang merah mengalami penurunan secara nasional. BPS mencatat harga rata-rata nasional sudah mencapai Rp45 ribu per kilogram. Secara umum, harga bawang merah sampai dengan minggu keempat Januari 2026 turun 5,53% dibandingkan Desember 2025.
HAP konsumen bawang merah ditetapkan sebesar Rp41.500 per kilogram untuk batas atas. Sedangkan batas bawah HAP konsumen ditetapkan Rp36.500 per kilogram.
Bawang merah mengalami penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) 62,22% di wilayah di Indonesia. Namun demikian, terdapat 109 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga bawang merah.
"Catatan kami adalah ada beberapa kabupaten/kota yang relatif perubahan IPH-nya paling tinggi adalah harga bawang merah di Kabupaten Bener Meriah, kenaikan harganya 63,7%," jelas Amalia.
Target Swasembada
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut bawang putih masuk peta jalan swasembada nasional 2029. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam membentuk kemandirian pangan bangsa lewat peningkatan produksi, mengurangi impor, sehingga meningkatkan kesejahteraan petani.
"Iya dong bawang putih masuk ke roadmap untuk swasembada hingga 2029 nanti," kata Sudaryono beberapa waktu lalu.
Sudaryono menyampaikan hal itu ketika awak media mengkonfirmasi mengenai pernyataan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan yang mengatakan, Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih pada 1995, namun produksi komoditas tersebut terus menurun sejak 2020.
Menanggapi hal itu, Sudaryono menegaskan bawang putih masuk peta jalan swasembada nasional, sejalan arahan Presiden sehingga Indonesia dapat mengulang keberhasilan pangan strategis itu. Untuk mewujudkan hal itu, pemerintah menyiapkan strategi komprehensif agar komoditas tersebut kembali diproduksi mandiri oleh petani.
Menurut Sudaryono, kebutuhan bawang putih nasional sebenarnya tidak besar, karena swasembada dapat dicapai dengan hanya penanaman sekitar 100 ribu hectare. Asalkan didukung bibit berkualitas dan lokasi tanam sesuai.
Saat ini, pemerintah telah memulai fase awal berupa pembibitan bawang putih, karena keberhasilan swasembada sangat ditentukan ketersediaan benih unggul yang memadai sebelum penanaman dilakukan secara masif.
Salah satu pusat pembibitan dikembangkan di Humbang Hasundutan Sumatera Utara melalui Horticulture Center. Fasilitas ini difungsikan sebagai sentra pengembangan benih hortikultura, termasuk bawang putih, untuk mendukung target swasembada nasional.
Sudaryono menegaskan perintah Presiden sangat jelas, yakni mengulang capaian strategis yang terbukti bermanfaat bagi rakyat. Termasuk swasembada bawang putih, kedelai, susu, dan komoditas pangan penting lainnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar