Iklan
Komoditas

Harga Minyak Naik, Pasar Tunggu Sinyal Dialog AS-Iran

Harga minyak Brent dan WTI menguat di London, seiring investor menanti kejelasan soal potensi pembicaraan AS-Iran di Sidang Umum PBB pekan ini.

Ilustrasi fasilitas pengeboran minyak dunia. Foto: Envato
Ilustrasi fasilitas pengeboran minyak dunia. Foto: Envato
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Harga minyak dunia naik pada Selasa (22/9), seiring investor menanti perkembangan potensi pembicaraan Amerika Serikat (AS) dan Iran di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini. Kenaikan ini terjadi setelah pelemahan harga dalam beberapa hari terakhir.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November tercatat naik US$1,72 atau 1,7% menjadi US$102,06 per barel pada pukul 06.17 GMT. Kontrak WTI pengiriman Oktober, yang akan berakhir pada hari yang sama, naik US$1,62 atau 1,7% ke level US$97,4 per barel, sementara kontrak WTI November yang lebih aktif diperdagangkan terkerek US$1,28 atau 1,4% menjadi US$93,65 per barel.

"Kenaikan harga WTI dan pembukaan yang lebih kuat pada harga Brent tampak seperti pemulihan harga akibat aksi short-covering (pembelian kembali untuk menutup posisi jual) yang umum terjadi setelah penurunan baru-baru ini, dan bukan karena perubahan fundamental," kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, seperti dilansir Reuters, Selasa (22/9).

Para trader yang sebelumnya bersiap menghadapi penurunan harga lebih lanjut kini mulai mengurangi posisi risiko mereka. Mereka disebut sedang memantau perkembangan narasi diplomatik antara Washington dan Teheran.

Ketegangan kedua negara sempat memanas lewat saling ancam pada Minggu (20/9/2026). Meski begitu, Presiden AS Donald Trump menyatakan keterbukaan untuk bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang diperkirakan hadir di New York pekan ini untuk mengikuti pertemuan PBB.

Di sisi lain, Iran turut menyampaikan syarat-syarat untuk kembali bernegosiasi kepada pihak penengah selama akhir pekan. Al Jazeera melaporkan hal itu dengan mengutip kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei.

Waterer menilai harga minyak kemungkinan masih bergerak dalam rentang terbatas dan sensitif terhadap setiap kabar terbaru. Menurutnya, kondisi ini akan berlanjut hingga ada kemajuan nyata atau justru kemunduran dalam upaya diplomatik AS-Iran.

Situasi di Timur Tengah tetap tegang setelah kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengklaim telah menyerang Riyadh serta fasilitas Saudi Aramco di Yanbu. Kelompok tersebut juga dikabarkan meningkatkan upaya memutus akses pasukan yang didukung Arab Saudi dari wilayah pesisir Laut Merah.

China dilaporkan mendesak Teheran untuk membantu meredam serangan Houthi, menyusul permintaan Arab Saudi kepada Beijing atas lonjakan operasi militer kelompok itu. Informasi ini diungkap tiga sumber dari Iran.

Saudi Aramco merespons dengan meningkatkan ekspor lewat Selat Hormuz, setelah serangan terhadap Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) miliknya memaksa penghentian sebagian pengiriman via Yanbu. Data pelacakan kapal tanker menunjukkan sekitar 14 juta barel minyak mentah perusahaan itu dimuat ke tujuh kapal supertanker di wilayah Teluk pada Minggu.

"Kekhawatiran mengenai pasokan mulai mereda seiring dengan volume pengiriman melalui Selat Hormuz yang mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir, serta upaya Arab Saudi untuk memulihkan Pipa Timur-Barat. Volatilitas tersirat minyak mentah turun 3,3% menjadi 50,39, meskipun angka tersebut masih tergolong tinggi secara historis," demikian disampaikan analis Saxo Bank dalam catatan untuk klien.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Harga Minyak Dunia, WTI, Brent Crude, dan perundingan AS- Iran dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.