Perdagangan

Harga Beras Foritifikasi Tidak Wajar, Pemerintah Pastikan Beri Sanksi Pelanggar

25 merek beras fortifikasi bermasalah dijual mahal tanpa gizi sesuai klaim. Pemerintah tarik produk dan beri peringatan 11 pelaku usaha.

Harga Beras Foritifikasi Tidak Wajar, Pemerintah Pastikan Beri Sanksi Pelanggar
Kepala Bakom RI Muhammad Qodari saat memberikan keterangan di Jakarta, Senin (13/7). Dok. Bakom RI
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan 25 merek beras fortifikasi yang tidak memiliki nilai gizi sesuai, namun dijual dengan harga mahal.

Beras fortifikasi abal-abal dibanderol mulai Rp19.270 per kilogram (kg) hingga Rp57.600 per kg, padahal seharusnya dijual Rp13.500 per kg. Sebanyak 25 merek menawarkan klaim tambahan vitamin dan mineral, tetapi setelah melalui uji laboratorium, hasilnya justru bertolak belakang.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menegaskan bahwa beras fortifikasi seharusnya menjadi makanan pokok yang diperkaya zat gizi tertentu untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.

"Pemerintah ingin memberikan perlindungan dan kepastian kepada masyarakat, sekaligus memastikan pihak yang diduga melakukan pelanggaran bertanggung jawab sesuai proses yang berlaku," kata Qodari dalam keterangannya, Selasa (22/9).

Menurut Qodari, negara telah melarang pelaku usaha memproduksi atau memperdagangkan barang maupun jasa yang tidak memenuhi standar mutu, tidak sesuai ukuran atau berat bersih, rusak, atau tidak menyertakan informasi yang benar.

Adapun dari 25 merek beras fortifikasi bermasalah tersebut, tercatat dimiliki oleh 11 pelaku usaha. Seluruhnya telah diberikan surat peringatan oleh Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) dalam koordinasi dengan Bapanas.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Muhammad Qodari, Badan Komunikasi Pemerintah RI (Bakom), beras fortifikasi, dan beras oplosan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.