Iklan
Komoditas

Brent Tembus US$103, Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah ke AS

Harga minyak dunia bangkit usai lima hari melemah, seiring pernyataan tegas Presiden Iran Masoud Pezeshkian di hadapan PBB soal sikap Teheran terhadap AS.

Brent Tembus US$103, Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah ke AS
Ilustrasi Pengeboran MInyak. Foto: Envato
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Rabu, menghentikan tren pelemahan lima hari beruntun. Kenaikan ini terjadi usai Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tak akan tunduk kepada Amerika Serikat (AS).

Dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Pezeshkian menyebutkan Iran tidak bisa dipaksa untuk mundur. Ia menuturkan, upaya menekan Teheran selama ini justru membuktikan ketangguhan negaranya.

"Mereka telah menguji kekuatan dan keteguhan Iran, dan mereka telah belajar bahwa Iran tidak dapat dipaksa untuk menyerah," kata Pezeshkian dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Rabu.

Mengutip CNBC, Kamis (24/9), harga minyak Brent yang jadi acuan global melesat 3,9% dan ditutup di level US$103,08 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ikut naik 1,8% menjadi US$92,16 per barel.

Kenaikan pada Rabu itu belum cukup menutup pelemahan sepekan terakhir. Harga minyak mentah AS masih tercatat turun sekitar 8% dalam sepekan, sementara Brent terkoreksi hampir 1%.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebutkan pejabatnya telah menggelar pertemuan yang "sangat baik" dengan delegasi Iran selama sekitar tiga jam. Namun, dalam pidatonya di PBB, Trump mengungkapkan dirinya kini menghadapi "keputusan besar" terkait apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau justru "memusnahkan" negara tersebut.

Reuters melaporkan, Iran berpotensi membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sepekan jika AS bersedia mengurangi tekanan militer sekaligus mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.

CEO bank digital swasta BankPro Paolo Broccardo menilai peluang de-eskalasi juga datang dari langkah diplomatik negara ketiga. "Upaya mediasi Pakistan dengan Teheran juga dapat mengurangi risiko eskalasi yang lebih luas," kata Broccardo.

Broccardo menambahkan, lonjakan harga minyak dalam waktu dekat belum tentu terjadi meski tensi geopolitik masih tinggi. Menurutnya, pasar minyak baru saja menjauh dari area yang biasa memicu intervensi kedua belah pihak.

"Dalam lima sesi perdagangan berturut-turut terakhir, harga telah turun hampir 12%, kembali menjauh dari zona intervensi di atas US$100, yang berulang kali menjadi area ketika kami melihat upaya perdamaian yang semakin intensif dari kedua belah pihak," ujar Broccardo.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Harga Minyak Dunia, Brent Crude, dan WTI dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.