Periskop.id - Tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jakarta meningkat pada awal tahun 2026 yakni 83 kasus pada minggu pertama. Sebelumnya ada 69 kasus pada minggu ke-53 tahun 2025.

Meski begitu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati dalam keterangan di Jakarta, Jumat menyampaikan, kenaikan tersebut belum setinggi apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu Januari 2025. Adapun jumlah kasus DBD di wilayah DKI pada tahun 2026 hingga 19 Januari, tercatat sebanyak 143 kasus.

“Data tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan DKI Jakarta, terutama di tengah kondisi musim hujan yang masih berlangsung dan berpotensi meningkatkan risiko penularan DBD,” ujarnya. 

Ani mengingatkan, faktor risiko peningkatan kasus DBD saat musim hujan antara lain sampah yang tidak dikelola, serta tanaman hias tertentu yang dapat menampung air. Ditambah dengan tingginya curah hujan, hal ini mengakibatkan banyaknya tempat-tempat penampungan air yang terbentuk.

“Kondisi tersebut dapat menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti sehingga meningkatkan populasi nyamuk dan risiko penularan DBD di masyarakat,” serunya. 

Karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta bersama Puskesmas terus melakukan berbagai upaya, untuk mencegah penyebaran DBD. Di antaranya melakukan sosialisasi tentang pentingnya pelaksanaan PSN 3M.

PSN 3M meliputi Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Menguras, Menutup, dan Mendaur Ulang tempat-tempat yang dapat menampung air, baik melalui media sosial maupun secara langsung kepada masyarakat.

Selain itu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga bekerjasama dengan pamong, yaitu lurah dan camat, untuk secara rutin melakukan monitoring pelaksanaan PSN ke masyarakat bersama Jumantik atau Juru Pemantau Jentik.

“Upaya pencegahan diperkuat dengan meningkatkan intensitas pemantauan jentik menjadi dua kali seminggu yang dilakukan oleh Jumantik, sebagai langkah untuk menekan peningkatan kasus DBD di Jakarta," tuturnya. 

Kondisi Iklim Januari
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Sahruna menyebutkan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi iklim pada Januari 2026 mendukung perkembangan nyamuk aedes aegypti.

“Kelembaban udara diperkirakan mencapai 82 persen, berada dalam rentang kelembaban optimum nyamuk yakni 71–83 persen, dengan suhu berkisar 24 hingga 31 derajat Celsius,” ucapnya.  

Ia menambahkan, upaya pengendalian DBD terus dilakukan melalui pemantauan vektor atau jentik nyamuk dengan mengutamakan peran serta masyarakat.

Dia juga mengimbau agar masyarakat tetap rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk mencegah penyebaran DBD. “Untuk mencegah penyebarannya, kami tetap melaksanakan PSN di semua tatanan,” serunya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada masa pancaroba. Pria yang biasa disapa Bang Doel itu meminta warga agar menerapkan "3M (menguras, menutup dan mengubur)" sebagai upaya antisipasi penyakit tersebut.

"Ini menjadi warning (peringatan) bagi kita semua. Biasa itu, pancaroba setelah musim hujan, akan muncul DBD. Saya ingatkan saja, penting untuk menerapkan 3M. Itu jangan sampai kita lupa," ujar Rano.

Dia pun meminta agar Kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) bergerak lebih optimal untuk menyidak kebiasaan masyarakat yang berpotensi meningkatkan kasus DBD. "Kita kan sudah punya Tim Jumantik, dan itu harus lebih dioptimalkan lagi," kata Rano.