Periskop.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menambah jumlah embung di ibu kota, salah satunya di kawasan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Langkah ini untuk mereduksi debit banjir pada sistem aliran saluran penghubung Joe (sistem Kali Mampang-Krukut). 

Embung yang berlokasi di Jalan Baung, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, atau di belakang apartemen Kebagusan City itu memiliki total luas sekitar dua hektare.

"Kategorinya, waduk ini tidak terlalu besar, kira-kira 2 hektare, kemudian kedalaman 3-4 meter. Tujuannya, untuk mereduksi debit banjir di sistem aliran saluran penghubung Joe (sistem Kali Mampang-Krukut)," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat meninjau pembangunan Embung Kebagusan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (30/1). 

Dia mengatakan, Embung Kebagusan dapat mereduksi debit banjir sekitar 2,3%. Apabila debit air pada sistem aliran saluran penghubung Joe semula 30,07 meter kubik per detik, maka embung tersebut dapat mereduksi debit air menjadi 29,38 meter kubik per detik.

"Memang kecil, tetapi bisa mereduksi, itu sebuah hal yang luar biasa," ujar Rano.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum mengatakan, Embung Kebagusan menjadi satu dari tujuh embung yang sedang dalam tahap pembangunan.

"Saat ini, embung dan waduk yang sudah berfungsi di Jakarta kurang lebih ada 50, dan yang sedang dalam tahap pembangunan kurang lebih tujuh lokasi, salah satunya di lokasi ini," tutur Ika.

Pembangunan Embung Kebagusan, kata dia, dapat menangani genangan air atau banjir di wilayah Pegangsaan Dua yang merupakan lokasi langganan banjir akibat luapan saluran penghubung Joe, dan berkontribusi terhadap banjir di Kelurahan Kebagusan. 

Selain itu, dia mengungkapkan embung tersebut juga menjadi infrastruktur pengendali banjir di wilayah Pasar Minggu dan kawasan Jakarta Selatan. Lebih lanjut, Ika menargetkan pembangunan Embung Kebagusan rampung pada akhir 2026.

Menurut Rano, di lokasi embung tersebut, Pemprov DKI berencana membangun ruang publik, seperti taman dan sarana olahraga di area Embung Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

"Selain sebagai kolam tampungan dalam pengendalian banjir, waduk atau embung ini juga berfungsi sebagai ruang publik. Rencananya, ada taman, ada tempat bermain, ada sarana olahraga, ada lapangan sepak bola mini," kata Rano.

Embung Kebagusan berlokasi di Jalan Baung, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, atau di belakang apartemen Kebagusan City, dengan total luas sekitar dua hektare. Embung tersebut berada di lahan milik Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta seluas 1,3 hektare dan Dinas Pertamanan dan Kehutanan DKI Jakarta seluas 1 hektare.

Dari total luas area embung itu, sekitar 0,5 hektare akan digunakan untuk ruang publik dan 0,7 hektare untuk area hijau. "Dengan adanya Embung Kebagusan ini, untuk banjir, kita bisa kelola untuk menjadi pengendali banjir. Tetapi saat tidak hujan, bisa dimanfaatkan oleh warga, minimal menjadi pusat olahraga," ujar Rano.
Embung Cakung
Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta memastikan rencana pembangunan embung dan penataan drainase di Kawasan Terpadu Cakung Barat akan direalisasikan pada Tahun Anggaran 2026.

"Rencana pembangunan embung dan penataan drainase di Kawasan Terpadu Cakung Barat akan direalisasikan pada Tahun Anggaran 2026," kata Humas Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Royhan saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Royhan menyebut, proyek ini menjadi bagian dari upaya penguatan infrastruktur pengelolaan air guna mengurangi risiko banjir di wilayah Jakarta Timur. Kepastian ini sebagai tindak lanjut atas permohonan informasi publik yang diajukan melalui portal resmi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Provinsi DKI Jakarta pada 27 November 2025 dengan Nomor Register 25-3780-111.

Pembangunan embung tersebut akan dilaksanakan oleh Suku Dinas Sumber Daya Air Kota Jakarta Timur. Kegiatan itu mencakup pembangunan fasilitas embung sekaligus penataan sistem drainase di sekitar kawasan Cakung Barat.

"Pembangunan embung dan penataan drainase ini ditujukan untuk mendukung infrastruktur pengelolaan sumber daya air serta menekan potensi banjir yang kerap terjadi saat curah hujan tinggi," jelas Royhan.

Menurut dia, pengembangan Kawasan Terpadu Cakung Barat dirancang secara menyeluruh agar fungsi embung dan sistem drainase dapat terintegrasi secara optimal dan memberikan dampak signifikan terhadap pengendalian banjir.

Seiring dengan rencana tersebut, DPRD DKI Jakarta melalui Komisi D yang membidangi pembangunan dan lingkungan hidup ,dinilai memiliki peran strategis dalam pengawasan dan percepatan realisasi proyek. Royhan berharap Komisi D DPRD DKI Jakarta yang saat ini dipimpin Yuke Yurike dapat memberikan respons cepat, serta memastikan proyek pembangunan embung Cakung Barat memperoleh dukungan kebijakan.

"Diharapkan Komisi D dapat memastikan proyek ini mendapat dukungan kebijakan dan penganggaran yang memadai, mengingat persoalan banjir masih menjadi masalah tahunan di Jakarta Timur," ucap Royhan.

Di sisi lain, masyarakat setempat menyambut positif rencana pembangunan embung tersebut. Namun, warga berharap realisasinya tidak kembali tertunda.

"Mereka menilai kehadiran embung dan perbaikan sistem drainase sangat dibutuhkan sebagai solusi jangka menengah dan panjang untuk mengatasi genangan yang kerap terjadi saat hujan deras," katanya.

Selain itu, sebagian warga juga berharap DPRD DKI Jakarta dapat mengawal proyek ini secara serius, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan. Sehingga pembangunan benar-benar berdampak pada pengurangan banjir dan tidak berhenti pada wacana perencanaan semata.

Adapun surat resmi Dinas SDA Provinsi DKI Jakarta terkait rencana tersebut telah ditandatangani oleh Sekretaris Dinas SDA selaku Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Pelaksana (PPIDP) dan ditembuskan kepada jajaran terkait di lingkungan Dinas SDA Provinsi DKI Jakarta serta Suku Dinas SDA Kota Administrasi Jakarta Timur.

Dengan sinergi antara eksekutif, legislatif, dan dukungan masyarakat, pembangunan embung Cakung Barat diharapkan dapat menjadi solusi nyata dan berkelanjutan dalam penanganan banjir di Jakarta Timur mulai 2026.

Kali Pesanggrahan
Sejatinya, selain di kebagusan, Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan (SDA Jaksel) juga membangun embung di kawasan Rengas, Pesanggrahan sebagai bagian dari program prioritas pengendalian banjir di Jakarta Selatan.

"Dalam waktu dekat ada di Rengas, Pesanggrahan. Lahannya milik pemerintah kota dan direncanakan untuk dijadikan embung," kata Santo, Kepala Sudin SDA Jakarta Selatan 

Santo mengatakan, pembangunan embung dilakukan dengan memanfaatkan lahan kosong milik Pemerintah Kota Jakarta Selatan yang dinilai strategis untuk menahan limpasan air. Ia menjelaskan, embung tersebut diharapkan mampu menahan aliran air dari wilayah perbatasan, termasuk Tangerang Selatan, sebelum masuk ke kawasan permukiman Jakarta Selatan terutama di Swadarma Raya dan Petukangan.

"Jadi ketika curah hujan dari Depok yang tadinya langsung meluncur ke Jakarta Selatan, kita tampung dulu, kita rem dulu di embung-embung yang kita buat," ucapnya.

Program pembangunan waduk dan embung sejalan dengan kebijakan Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta dalam memperbanyak tampungan air di wilayah rawan banjir.

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan membangun lahan seluas 2,9 hektare di Jalan Rengas, RT 05/011, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan yang dioptimalkan untuk fasilitas layanan masyarakat dan pengendalian banjir.

Bukti kepemilikan tanah melalui pembebasan lahan sudah dilakukan sejak tahun 2006, namun belum dimanfaatkan dengan baik hingga sekarang. Embung dengan kedalaman lima meter ini nantinya akan dilengkapi fasilitas kesehatan, jalur joging (jogging track), dan fasilitas pendukung lainnya. Ditargetkan pembangunan embung ini selesai pada akhir Januari 2026.