Periskop.id - Pemerintah Provinsi DKI secara tegas melarang organisasi kemasyarakatan (ormas) merazia (sweeping) rumah makan yang buka di siang hari selama Ramadan tahun ini. Larangan ini dinyatakan guna menjaga ketertiban dan kerukunan di Ibu Kota.
"Tentunya saya sebagai gubernur bertanggung jawab untuk itu dan saya tidak mengizinkan untuk ada sweeping,” kata Gubernur DKI Pramono Anung di Gereja Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) di Jakarta, Sabtu (14/2).
Pramono menegaskan, menyambut Ramadan itu harus dilakukan penuh kedamaian dan kerukunan. Ia mengatakan, sebagai kepala daerah dirinya bertanggung jawab menjaga situasi tetap kondusif, terutama karena Jakarta merupakan kota dengan mayoritas penduduk beragama Islam.
Menurut dia, momentum Ramadan harus menjadi ajang memperkuat toleransi antarumat beragama, bukan justru memunculkan permasalahan sosial. Ia juga menegaskan segala aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerawanan dan keributan tidak akan diizinkan.
“Pokoknya hal yang menimbulkan kerawanan, keributan saya tidak izinkan. Tetapi kalau menimbulkan kenyamanan, nanti saya izinkan,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, lanjut dia, telah menyiapkan berbagai agenda menyambut Ramadan dan Idulfitri agar berjalan tertib dan aman, termasuk penguatan kegiatan keagamaan. Ia berharap masyarakat dapat menjaga suasana tetap damai sehingga Ramadan di Jakarta berlangsung dengan nyaman bagi semuanya.
Personel Gabungan
Sementara itu, Polda Metro Jaya sedikitnya mengerahkan 10.000 personel gabungan dan elemen masyarakat untuk Jaga Jakarta, khususnya saat menyambut Ramadan 1447 Hijriah.
"Kami dari tim Polda Metro pada hari ini melaksanakan apel siaga Kamtibmas Jaga Jakarta untuk Indonesia dalam rangka menyambut Ramadhan 1447 Hijriah," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri dalam Apel Siaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) untuk Jaga Ibu Kota Jakarta, Sabtu.
Asep mengatakan, apel ini dalam rangka memperkuat kolaborasi antara kepolisian dengan masyarakat yang ada di DKI Jakarta. Ia menyebutkan, elemen yang terlibat dalam Jaga Jakarta pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) mulai dari pelajar hingga ojek daring.
"Elemen masyarakat yang hadir yakni jajaran ormas, serikat buruh, pelajar, Saka Bhayangkara dan pengemudi ojol," ucapnya.
Ia berharap, kesiapsiagaan petugas akan mampu menjaga aktivitas keamanan wilayah hukum DKI Jakarta. Terutama pada saat masyarakat menjalankan aktivitas ibadah, perekonomian dan kegiatan sosial.
Oleh karena itu, dia mengimbau warga untuk bijak menerima penyampaian informasi, tidak mudah terprovokasi dan mengedepankan musyawarah apabila terjadi persoalan di daerah itu.
Tinggalkan Komentar
Komentar