Periskop.id – Kecamatan Cakung menjadi wilayah dengan jumlah kasus demam berdarah dengue atau DBD terbanyak di Jakarta Timur sepanjang Januari hingga 11 Juni 2026. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur mencatat 360 kasus di kecamatan tersebut.
Namun, apabila dihitung berdasarkan jumlah penduduk, risiko tertinggi justru berada di Kecamatan Matraman. Wilayah itu mencatat angka kesakitan atau incidence rate sebesar 141,68 kasus per 100.000 penduduk dengan total 259 kasus.
"Wilayah dengan kasus infeksi Dengue (DBD) tertinggi saat ini adalah Kecamatan Cakung sebanyak 360 kasus berdasarkan akumulasi dari Januari sampai dengan 11 Juni 2026," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Arief Wahyudhy di Jakarta, Rabu (22/7) seperti dilansir Antara.
Perbedaan tersebut penting karena jumlah kasus absolut dan angka kesakitan menunjukkan dua kondisi berbeda. Cakung memiliki kasus paling banyak, sedangkan incidence rate menggambarkan besarnya risiko penularan setelah jumlah kasus dibandingkan dengan populasi wilayah.
"Sedangkan angka kesakitan per-100.000 penduduk (Incident rate) tertinggi adalah Kecamatan Matraman sebesar 141,68 per-100.000 penduduk dengan jumlah kasus sebanyak 259 kasus," jelas Arief.
Kasus DBD Jakarta Timur Mencapai 1.951
Berdasarkan rincian seluruh kecamatan yang disampaikan Sudinkes, jumlah kasus DBD di Jakarta Timur mencapai sedikitnya 1.951 hingga 11 Juni 2026. Setelah Cakung dan Matraman, kasus terbanyak ditemukan di Ciracas sebanyak 217 kasus, Kramat Jati 198 kasus, Duren Sawit 195 kasus, serta Pulogadung 194 kasus.
Kasus lainnya tersebar di Cipayung sebanyak 147, Pasar Rebo 138, Jatinegara 130, dan Makasar 113 kasus. Angka tersebut memperlihatkan, penularan tidak terkonsentrasi hanya di satu kecamatan. Seluruh wilayah Jakarta Timur telah mencatat lebih dari 100 kasus dalam kurun waktu kurang dari enam bulan.
Pada 20 Januari 2026, Sudinkes Jakarta Timur baru mencatat 61 kasus DBD. Petugas saat itu melakukan penyelidikan epidemiologi, pemberantasan sarang nyamuk, larvasidasi, serta pengasapan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penularan setempat.
Kasus Naik hingga Maret, Turun pada April–Mei
Arief menjelaskan kasus DBD di Jakarta Timur meningkat sejak Januari dan mencapai kecenderungan tertinggi pada Maret. Jumlahnya kemudian mulai menurun pada April dan Mei.
"Tahun 2025 peningkatan terjadi mulai awal tahun dan puncak kasus terjadi pada bulan Juli 2025, sedangkan tahun 2026 sejak Januari mengalami peningkatan sampai dengan Maret dan pada April-Mei mengalami penurunan," ujarnya.
Penurunan bulanan belum berarti ancaman telah berakhir. Perubahan cuaca, keberadaan tempat penampungan air, kepadatan permukiman, dan tingginya mobilitas penduduk masih dapat memengaruhi penularan.

WHO menyebut dengue banyak ditemukan di kawasan perkotaan dan semi-perkotaan di wilayah tropis. Penyakit tersebut ditularkan melalui gigitan nyamuk pembawa virus, terutama Aedes aegypti. Deteksi dini dan akses cepat ke layanan kesehatan sangat menentukan untuk mencegah dengue berkembang menjadi kondisi berat.
Kementerian Kesehatan juga menilai urbanisasi, perubahan iklim, dan mobilitas masyarakat membuat pengendalian dengue tidak dapat hanya mengandalkan satu intervensi. Pemerintah menyiapkan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029 yang menggabungkan surveilans, tata laksana klinis, pengendalian nyamuk, inovasi teknologi, dan keterlibatan masyarakat.
Lingkungan Masih Menjadi Faktor Utama
Sudinkes Jakarta Timur mengidentifikasi banyaknya tempat yang dapat menampung air sebagai salah satu faktor penyebab kasus tetap tinggi. Genangan pada bak, ember, talang, pot, ban bekas, dispenser, maupun barang yang tidak terpakai dapat menjadi lokasi berkembang biak nyamuk.
Risiko meningkat pada musim hujan dan masa peralihan musim. Kepadatan serta mobilitas penduduk Jakarta Timur juga memungkinkan orang yang terinfeksi berpindah antarkawasan dan memperluas siklus penularan.
Secara nasional, WHO mencatat lebih dari 257.000 kasus dengue dan sekitar 1.400 kematian di Indonesia sepanjang 2024. Keterlambatan deteksi, kemampuan diagnosis yang belum merata, koordinasi lintas sektor, dan rendahnya partisipasi pencegahan masih menjadi tantangan utama.
Meski kasus masih tinggi, Kementerian Kesehatan mencatat angka kematian atau case fatality rate DBD nasional turun dari 0,9% pada 2021 menjadi 0,4% pada 2025. Pemerintah menargetkan tidak ada lagi kematian akibat dengue pada 2030.
Warga Diminta Rutin Melakukan 3M Plus
Arief meminta camat, lurah, pengurus lingkungan, dan masyarakat memperkuat pemberantasan sarang nyamuk. Pengendalian DBD dinilai tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah maupun petugas kesehatan.
Gerakan 3M Plus meliputi menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutupnya dengan rapat, serta mendaur ulang atau membuang barang yang berpotensi menampung air.
Langkah tambahan mencakup pemeriksaan jentik secara berkala, penggunaan larvasida pada wadah yang sulit dikuras, pemasangan kawat kasa, penggunaan obat antinyamuk, serta perbaikan talang dan saluran air yang tidak lancar.
Masyarakat juga diminta tidak menunggu kondisi pasien memburuk. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak, sakit kepala berat, nyeri otot dan sendi, nyeri di belakang mata, mual, muntah, serta ruam.
Tanda bahaya sering muncul ketika demam mulai mereda, seperti nyeri perut berat, muntah terus-menerus, sesak napas, perdarahan, kulit pucat dan dingin, atau tubuh sangat lemas. Pasien dengan gejala tersebut harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Tingginya kasus di Cakung dan angka kesakitan Matraman menunjukkan penanganan perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap wilayah. Cakung membutuhkan intervensi luas karena jumlah kasusnya paling banyak, sedangkan Matraman memerlukan perhatian khusus karena proporsi kasus terhadap jumlah penduduk menjadi yang tertinggi di Jakarta Timur.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar