Periskop.id - Beban ekonomi akibat dengue di Indonesia diperkirakan mencapai US$550,9 juta atau setara Rp8,7 triliun sepanjang 2024. Studi Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mencatat lebih dari dua juta kasus dengue membutuhkan perawatan inap pada periode yang sama.
Peneliti Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan UGM, Diah Ayu Puspandari, menjelaskan kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya menghapus beban biaya pasien. Menurutnya, pasien JKN tetap harus menanggung pengeluaran mandiri untuk kebutuhan di luar layanan medis.
"Pasien JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri rata-rata Rp1,1-1,3 juta saat menghadapi periode sakit akibat dengue untuk kebutuhan nonmedis seperti transportasi dan akomodasi pendamping, di luar hilangnya produktivitas termasuk kehilangan pendapatan," kata Diah dalam Jakarta Dengue Forum (JDF) di Jakarta, Sabtu (18/7).
Studi tersebut juga menyoroti kondisi pasien tanpa jaminan kesehatan, yang harus menanggung beban lebih besar. Pengeluaran mandiri kelompok ini diperkirakan mencapai Rp4,3 juta hingga Rp5,6 juta per periode sakit.
Beban tersebut dinilai kian memberatkan kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, menurut studi itu. Biaya pengobatan, pengeluaran tambahan, dan hilangnya pendapatan yang terjadi bersamaan berpotensi memperburuk kondisi ekonomi keluarga.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Sri Rezeki Hadinegoro menyebutkan dampak dengue juga tampak dari hilangnya produktivitas anggota keluarga pasien. Ia menjelaskan, saat anak menjalani rawat inap, orang tua umumnya mendampingi sehingga kehilangan waktu bekerja, sementara kondisi serupa terjadi ketika orang tua yang sakit sehingga anggota keluarga lain harus mengambil alih peran perawatan.
Studi tersebut memperkirakan kerugian akibat hilangnya waktu produktif kelompok peserta JKN mencapai US$115 juta atau sekitar Rp1,81 triliun sepanjang 2024. Sementara itu, kelompok nonJKN mengalami kerugian produktivitas sekitar US$47,8 juta, setara Rp755,2 miliar.
Temuan itu dipaparkan dalam Jakarta Dengue Forum (JDF), forum ilmiah yang digelar PT Takeda Innovative Medicines bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta (IDAI Jaya). Forum tersebut dihadiri lebih dari 300 tenaga kesehatan untuk membahas penguatan langkah pencegahan dengue di Indonesia.
Risiko penularan dengue, menurut studi tersebut, dapat terjadi sepanjang tahun dan tidak terbatas pada musim tertentu. Kondisi ini membuat beban ekonomi dengue berpotensi muncul kapan saja bagi masyarakat maupun sistem kesehatan.
"Selain biaya perawatan dan pengobatan yang harus dikeluarkan, dampak lain yang tidak tampak adalah terganggunya produktivitas. Apalagi untuk pemulihan dari infeksi dengue perlu waktu yang cukup lama, sekitar satu hingga dua minggu," kata Sri Rezeki.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar