Periskop.id - Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), memperingatkan bahwa fenomena El Niño memperparah penyebaran demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia. Kenaikan suhu membuat nyamuk Aedes aegypti kian mudah berkembang biak, sehingga risiko penularan ikut melonjak.
Ia menjelaskan, sejumlah penelitian telah mengonfirmasi kaitan antara El Niño dan peningkatan kasus DBD. Kondisi ini dinilai kian mengkhawatirkan mengingat Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus dengue terbesar kedua di dunia setelah Brasil.
"Setiap kenaikan suhu bumi akan memberikan kemudahan bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Akibatnya angka kejadian demam berdarah meningkat," kata Prof. Hartono dalam konferensi pers Takeda Ayo Bersama Cegah DBD.
Beban penyakit ini terbilang berat pada 2026. Hampir 40.000 kasus DBD tercatat dengan lebih dari 100 kematian, dan sekitar 48% di antaranya menimpa anak usia di bawah 14 tahun.
Angka kematian tertinggi pun ditemukan pada kelompok yang sama. "Yang meninggal paling banyak adalah usia lima sampai 14 tahun, sekitar 37–40 persen," ujar Prof. Hartono.
Banyak kasus fatal, menurutnya, terjadi bukan karena penyakitnya tidak bisa ditangani, melainkan karena pasien terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan. Fase kritis DBD umumnya muncul pada hari keempat hingga kelima sejak demam pertama kali muncul.
"Demam berdarah adalah penyakit yang tidak bisa diramalkan. Masuk rumah sakit bisa jalan kaki, tetapi keluar bisa berbeda sekali jika terlambat ditangani," tegasnya.
Karena itu, Prof. Hartono mengajak orang tua agar segera membawa anak ke dokter bila muncul tanda-tanda berikut: muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, tubuh lemas, kaki dan tangan dingin, serta bibir membiru. Gejala-gejala tersebut merupakan sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan.
DBD juga berdampak lebih jauh dari sekadar kondisi fisik. Anak yang terinfeksi kerap absen dari sekolah dalam waktu lama dan membutuhkan masa pemulihan yang panjang.
"Setelah sembuh, banyak anak yang merasa lebih cepat lelah dibanding sebelum terkena dengue. Prestasi sekolah juga bisa terganggu," ujarnya.
Untuk itu, Prof. Hartono mendorong masyarakat agar tidak hanya mengandalkan fogging. Pemberantasan sarang nyamuk dan vaksinasi perlu dilakukan secara bersamaan sebagai perlindungan yang lebih menyeluruh.
Ia juga meluruskan anggapan yang masih umum di masyarakat, bahwa seseorang yang pernah terkena DBD akan kebal selamanya. Padahal, virus dengue terdiri dari empat jenis, dan infeksi pertama hanya memberi kekebalan terhadap satu serotipe saja.
"Virus dengue ada empat jenis. Kalau kita sakit karena virus yang satu, kita masih bisa terinfeksi virus nomor dua, nomor tiga, dan nomor empat. Bahkan infeksi berikutnya cenderung memberikan reaksi yang lebih berat dibanding infeksi pertama," papar Hartono.
Berbeda dengan infeksi alami, vaksin DBD dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap keempat serotipe sekaligus. Prof. Hartono menyebutkan, vaksinasi juga terbukti menekan risiko perawatan intensif di rumah sakit hingga kematian akibat dengue. Bagi mereka yang sudah pernah terinfeksi, vaksin tetap disarankan setelah masa pemulihan selesai.
"Kalau kita mendapatkan vaksinasi, kita sekaligus mendapatkan kekebalan terhadap empat jenis virus tersebut," pungkas Prof. Hartono.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar