Periskop.id – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat mendorong Festival Kali Pasir menjadi agenda budaya tahunan sekaligus destinasi baru bagi wisatawan. Festival yang digelar di kawasan Kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Cikini, pada 24–25 Juli 2026 itu dinilai berpotensi memperkuat identitas Jakarta menjelang peringatan lima abad kota tersebut pada 22 Juni 2027.
Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Pusat Denny Ramdany mengatakan, perjalanan Jakarta menuju kota global tidak cukup hanya ditopang pembangunan infrastruktur. Kota juga membutuhkan ruang seni, pertunjukan budaya, serta kegiatan kreatif yang mampu melibatkan warga dan menarik perhatian wisatawan.
“Festival Kali Pasir yang digagas Institut Kesenian Jakarta ini menjadi salah satu kegiatan yang mendukung Jakarta menyongsong kota global,” kata Denny saat membuka Festival Kali Pasir 2026 di Kampus IKJ, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (24/7).
Menurut Denny, Jakarta memiliki kekayaan seni dan budaya yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Namun, potensi tersebut perlu lebih sering ditampilkan melalui festival yang dikelola secara konsisten dan memiliki ciri khas kuat.
Ia mengusulkan agar Festival Kali Pasir pada tahun berikutnya diselenggarakan dalam skala lebih besar. Pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan memperluas area kegiatan hingga menghadirkan panggung pertunjukan di kawasan Kali Pasir.
Festival juga dinilai perlu melibatkan lebih banyak unsur melalui kolaborasi pentahelix, yakni pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan komunitas seni. Keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar manfaat festival tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi juga menjangkau pemberdayaan warga serta pengembangan ekonomi kreatif.
“Mari kita tunjukkan sebagai warga Jakarta bahwa banyak potensi yang bisa kita gali, khususnya di hari ini melalui event kesenian dan budaya. Kita libatkan semua pemangku kepentingan yang terkait,” ujar Denny.
Ruang Kolaborasi Kampus dan Warga
Festival Kali Pasir 2026 merupakan penyelenggaraan kedua yang digagas IKJ bersama Yayasan Seni Budaya Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Sejak penyelenggaraan pertamanya pada 2025, festival tersebut dirancang sebagai ruang perjumpaan antara kampus, komunitas, dan kota. IKJ melibatkan sivitas akademika, alumni, serta masyarakat dari Kelurahan Kebon Sirih, Cikini, Kwitang, dan Kenari untuk menghasilkan karya seni bersama.
Kolaborasi kembali diperkuat pada edisi 2026. Salah satunya melalui pertunjukan lenong yang dimainkan mahasiswa IKJ bersama masyarakat Kali Pasir. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa warga bukan hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat langsung dalam proses penciptaan dan pementasan karya.
Festival selama dua hari tersebut menghadirkan pertunjukan musik, seni pertunjukan, diskusi, lokakarya, pemutaran film, bazar produk UMKM, hingga bedah buku.
Sejumlah musisi dan kelompok seni turut meramaikan acara, di antaranya The Adams, Sisitipsi, Indische Party, Kebunku, Jagad Pantomime, Boogie Dance, dan Yola Dance. Festival juga menghadirkan bedah buku karya Seno Gumira Ajidarma dan Beng Rahadian.
Rangkaian kegiatan itu diharapkan dapat mempertemukan seni tradisional dengan karya kontemporer sekaligus membuka ruang promosi bagi pelaku UMKM dan industri kreatif di sekitar kawasan Cikini.
Festival Budaya Berpotensi Menarik Wisatawan
Pengembangan Festival Kali Pasir sebagai agenda tahunan dinilai relevan dengan meningkatnya aktivitas pariwisata di Jakarta. Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara menuju Jakarta mencapai sekitar 24,76 juta perjalanan pada kuartal II 2025.
Angka tersebut meningkat 23,04% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan besarnya peluang bagi Jakarta untuk mengembangkan festival seni dan budaya sebagai bagian dari pilihan destinasi wisata kota.
Daya tarik festival juga terlihat pada penyelenggaraan Jakarta Light Festival di Kota Tua pada Juni 2026. Acara yang memadukan seni pencahayaan, musik, dan kawasan bersejarah itu dikunjungi sekitar 25.000 orang pada hari pertama.
“Hari pertama kegiatan disambut antusias oleh masyarakat. Pengunjung Kota Tua tembus 25 ribu orang,” kata Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Denny Aputra.
Besarnya jumlah pengunjung tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan budaya yang dikemas menarik dapat memperkuat citra destinasi sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Dengan pengemasan yang lebih besar, promosi konsisten, serta keterlibatan warga, Festival Kali Pasir berpeluang mengikuti jejak berbagai festival kota lain. Kegiatan ini tidak hanya dapat menjadi panggung kesenian, tetapi juga sarana memperkenalkan wajah Jakarta yang kreatif, inklusif, dan tetap berakar pada kebudayaan lokal.
Tinggalkan Komentar
Komentar