banner-sheroes-yoga
Moneter

Rupiah Melemah ke Rp17.845, BI Ungkap Penyebabnya

Rupiah melemah 45 poin atau 0,49% ke Rp17.845 pada Senin (21/9). BI menyebut tekanan dipengaruhi geopolitik dan kebutuhan valas importir.

Rupiah Melemah ke Rp17.845, BI Ungkap Penyebabnya
Pecahan uang rupiah. Foto/Dok: Envato/Wdnld
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, buka suara terkait pelemahan nilai tukar Rupiah pada hari ini, Senin (21/9). Melansir Bloomberg pukul 14.46 WIB, Rupiah berada di Rp17.845 atau melemah 45 poin atau 0,49%.

Menurutnya, pelemahan tersebut masih dipengaruhi oleh kekhawatiran tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$100 per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan tekanan pada outlook fiskal.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," ujar Erwin dalam keterangannya, Senin (21/9).

Erwin mengatakan bahwa Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya, melalui pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market.

Bahkan juga terus memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.

Ia menyebut intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT)," jelas Erwin.

Lebih jauh, secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan penguatan secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,37%.

"Posisi cadangan devisa juga meningkat ke level USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026," tutup dia.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Bank Indonesia (BI), Rupiah, dan dolar AS dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.