Periskop.id - Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan, masjid-masjid yang berada di jalur mudik akan dibuka 24 jam. Hal ini dilakukan demi mendukung kelancaran arus mudik, Nyepi, dan Idulfitri, sehingga masyarakat bisa memanfaatkannya.

“Secara nasional tercatat sebanyak 6.859 posko Masjid Ramah Pemudik disiapkan di berbagai jalur mudik,” kata Menag di Jakarta, Selasa (3/3). 

Ribuan masjid itu akan difasilitasi pengamanan area ibadah dan parkir, kebersihan toilet dan ketersediaan air wudhu, fasilitas pengisian daya gawai, ruang ibadah yang nyaman, area istirahat, penyediaan air minum dan makanan ringan, serta pusat informasi bagi pemudik.

Nasaruddin menyampaikan, tradisi mudik Lebaran setiap tahunnya harus berjalan aman, menyenangkan, dan lancar. Karena itu, Kemenag harus ambil bagian, selain sebagai pengabdian masyarakat juga menjadi ladang amal saleh.

Kementerian Agama sebelumnya melaporkan, sebanyak 1.617.641 pemudik telah singgah di 8.710 Masjid Ramah Pemudik yang tersebar di seluruh Indonesia selama masa mudik dan arus balik Lebaran 2025.

"Ini bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa masjid hadir sebagai rumah bersama di tengah mobilitas besar masyarakat. Masjid Ramah Pemudik menjadi simbol pelayanan keagamaan yang bersifat universal dan inklusif," ujar Nasaruddin.

Untuk memperkuat peran masjid sebagai pusat pelayanan publik, Kementerian Agama juga meluncurkan Program Ekspedisi Masjid Indonesia (EMI) 2026. Program ini bertujuan menampilkan masjid sebagai rumah singgah umat, sekaligus memperlihatkan praktik pelayanan masjid yang humanis dan inklusif selama masa mudik dan arus balik.

Program EMI dilaksanakan melalui peliputan perjalanan di jalur mudik bersama Radio Elshinta, dengan kick-off H-8 Idulfitri dan pelaksanaan pada H-7 hingga H+7 Lebaran, yakni 13-29 Maret 2026.

Masjid yang terlibat diklasifikasikan dalam beberapa kategori, antara lain Masjid Transit Utama, Masjid Buffer Kota, Masjid Kota Provinsi/Kabupaten, Masjid Ikonik Sejarah, serta Masjid Area Berisiko di titik pelabuhan, perbatasan, dan jalur rawan kemacetan.

Menag juga menyoroti kesiapan menghadapi Hari Raya Nyepi di Bali pada 19 Maret 2026. Menag menjelaskan apabila Idulfitri jatuh pada 20 Maret, takbiran di Bali tetap diperbolehkan, namun dilaksanakan secara terbatas, tanpa pengeras suara, tanpa arak-arakan kendaraan, dan dengan penerangan minimal.

“Ini dilakukan sebagai bentuk toleransi antarumat beragama di Bali, berdasarkan kesepakatan bersama,” kata dia.

Namun apabila Idulfitri berlangsung pada 21 Maret 2026, pelaksanaan Nyepi dan takbiran dapat berjalan normal sesuai waktu masing-masing. Menag menegaskan koordinasi lintas sektor menjadi kunci agar pelayanan masyarakat selama mudik dan perayaan keagamaan berjalan aman, tertib, dan nyaman.

“Negara harus hadir memastikan umat dapat menjalankan ibadah sekaligus melakukan perjalanan mudik dengan aman dan manusiawi, dan masjid menjadi bagian penting dari pelayanan publik tersebut,” tuturnya. 

Rest Area Pemudik
Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mendorong agar masjid di setiap jalur mudik bisa menjadi rest area bagi pemudik. Hal ini guna mendukung kelancaran arus perjalanan serta meningkatkan keselamatan angkutan Lebaran 2026.

"Melalui pemanfaatan masjid-masjid yang berada di jalur mudik, kami berharap masyarakat dapat beristirahat dengan nyaman selama perjalanan. Kami juga akan menyiapkan fasilitas pendukung agar pemudik dapat beristirahat dengan aman,” kata Menhub beberapa waktu lalu. 

Dudy mengaku telah melakukan audiensi dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kantor Pusat Kementerian Agama, Jakarta, guna memperkuat koordinasi dalam rangka kesiapan penyelenggaraan Angkutan Lebaran Tahun 2026.

"Salah satu langkah yang disiapkan adalah pemanfaatan rumah ibadah bagi para pemudik," ujarnya. 

Menhub pun menyampaikan permohonan dukungan dari Kementerian Agama terkait rencana pemanfaatan masjid di sepanjang jalur mudik sebagai tempat beristirahat (restarea) bagi pemudik, khususnya pengguna kendaraan pribadi dan sepeda motor.

Masjid-masjid tersebut diharapkan dapat menyediakan fasilitas dasar seperti area parkir, toilet, air bersih, penerangan, serta ruang istirahat bagi masyarakat.

Selain pemanfaatan rumah ibadah, Kemenhub sejatinya juga menyiapkan sejumlah fasilitas lain sebagai titik istirahat bagi pemudik, seperti terminal dan jembatan timbang yang berada di jalur mudik.

Lebih lanjut ia mengatakan, sinergi antara Kementerian Perhubungan dan Kementerian Agama menjadi penting, mengingat momentum Idulfitri 2026 tidak hanya berkaitan dengan mobilitas masyarakat dalam jumlah besar, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan sosial yang kuat.

“Ini merupakan sinergi yang sangat baik antara Kementerian Agama dan Kementerian Perhubungan, mengingat momentum Idulfitri tidak hanya berdimensi mobilitas yang sangat besar, tetapi juga memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam bagi masyarakat kita,” kata Dudy.

Berdasarkan hasil survei potensi pergerakan masyarakat pada masa Lebaran 2026, diperkirakan melibatkan sekitar 143 juta orang. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan hasil survei tahun lalu yang mencapai 146 juta orang, namun pemerintah tetap mengantisipasi kemungkinan lonjakan mobilitas masyarakat.

Mayoritas masyarakat yang melakukan perjalanan pada masa Lebaran diperkirakan bertujuan untuk mudik dan bersilaturahmi di kampung halaman. Kelompok ini mencapai sekitar 66% dari total responden survei.

“Tahun lalu realisasi pergerakan masyarakat bahkan mencapai sekitar 154 juta orang. Karena itu kami tetap mengantisipasi kemungkinan peningkatan perjalanan masyarakat menjelang hari raya,” tuturnya.