Periskop.id - Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) berharap, semakin banyak merek internasional dan produk makanan luar negeri masuk ke pasar domestik. Hal ini penting untuk melengkapi pilihan belanja masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik pusat perbelanjaan di Indonesia.
Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah, dalam pembukaan Bina Indonesia Great Sale 2025 di Jakarta, Kamis (18/12), menuturkan, pihaknya tengah menggalakkan program Belanja di Indonesia Aja yang bertujuan mendorong masyarakat berbelanja di dalam negeri, bukan ke luar negeri.
Namun, ia mengakui masih banyak masyarakat Indonesia memilih berbelanja di luar negeri. Salah satu penyebabnya adalah harga barang di dalam negeri yang relatif lebih tinggi, serta ketersediaan produk yang dinilai belum lengkap.
“Harapan kami belanja di Indonesia bisa ditindaklanjuti dengan perbaikan-perbaikan, sehingga produk yang dicari konsumen lengkap, baik merek lokal maupun global, termasuk makanan Indonesia dan makanan luar negeri. Selama mematuhi kepatuhan pajak, kami dukung,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah tersebut diharapkan dapat menekan aliran devisa ke luar negeri, sekaligus menarik wisatawan asing untuk berbelanja di Indonesia.
“Artinya uang yang keluar bisa dicegah, bahkan turis asing membawa uang masuk sehingga perputaran ekonomi semakin besar di dalam negeri,” imbuhnya.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, dukungan pemerintah terhadap penguatan produk dalam negeri melalui program kemitraan dengan pusat perbelanjaan. Ia menekankan pentingnya kerja sama dengan pusat perbelanjaan melalui mekanisme business matching agar produk UMKM dapat masuk ke mal dan bersaing dengan merek global.
“Tadi saya lihat di salah satu toko, isinya produk dalam negeri semua dan kualitasnya bagus-bagus. Ini salah satu cara agar produk UMKM bisa bersaing, yaitu kualitasnya harus ditingkatkan,” kata Mendag.
Peran Strategis
Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita mengungkapkan, sektor ritel memegang peranan strategis sebagai penghubung antara produsen dan konsumen, serta motor penggerak pertumbuhan produk dalam negeri.
Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia mencatat pada September 2025 Indeks Penjualan Riil tumbuh 5,8% (yoy) meningkat dari 3,5 pada bulan sebelumnya. Terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, tembakau, dan perlengkapan rumah tangga.
Pertumbuhan ini diperkuat oleh struktur demografi Indonesia dengan kelas menengah berdaya beli tinggi, serta generasi milenial dan gen Z yang memiliki pola konsumsi modern, melek digital, dan semakin berpihak pada produk lokal. “Kondisi tersebut menjadikan ritel modern sebagai jalur penting bagi IKM untuk memperluas pasar,” kata Reni.
Sementara itu, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu menyatakan, IKM membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat sebagai tulang punggung industri nasional. Oleh karena itu, kata dia pihaknya konsisten melaksanakan berbagai program pembinaan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing IKM, termasuk kegiatan temu bisnis.
Tinggalkan Komentar
Komentar