Periskop.id - Pedagang Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur mengeluhkan lapak sementara yang disediakan Perumda Pasar Jaya, tidak layak untuk aktivitas jual beli.
"Kalau memang mau dibangun, kami tidak masalah pindah. Tapi jangan disuruh pindah ke tempat yang tidak layak. Kalau mau dibangun dan dikerjain, kami pindah sendiri, asal tempatnya sesuai," kata Parminah, salah satu pedagang buah di Pasar Induk Kramat Jati, seperti dilansir Antara, Senin (22/12).
Parminah menilai, lokasi penampungan sementara yang disiapkan tidak layak untuk aktivitas jual beli. Terutama bagi pedagang buah dengan volume barang yang besar.
Pada prinsipnya, dia tidak menolak jika pemerintah atau pengelola pasar ingin melakukan Pembangunan. Namun, menurutnya, relokasi hanya bisa diterima jika tempat pengganti benar-benar memadai.
Menurut dia, lapak yang saat ini ditempatinya saja sudah terasa sempit. Kondisi dagangan sering bertumpuk karena keterbatasan ruang. Jika harus dipindahkan ke lokasi penampungan sementara dengan ukuran yang lebih kecil, maka dikhawatirkan aktivitas jual beli akan semakin terganggu.
"Ini saja sudah tumpuk-tumpukan, tidak jalan. Apalagi nanti kalau pindah ke sana. Penampungan cuma satu setengah meter kali dua meter, kecil banget, nggak layak," ujar Parminah.
Hal serupa dikatakan pedagang buah lainnya Hendra. Dia menyebut, pedagang seperti dirinya membutuhkan ruang yang cukup luas untuk menata dagangan seperti pepaya dan buah-buahan lainnya.
Dengan ukuran lapak yang sempit, penataan barang menjadi tidak optimal dan berpotensi merusak kualitas buah. "Pepaya saya saja ditumpuk-tumpuk begini. Barang buah itu kan butuh tempat, tidak bisa sembarangan," kata Hendra.
Sebelumnya, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan menyebut, Perumda Pasar Jaya bergerak cepat menyiapkan tempat penampungan sementara, bagi pedagang yang terdampak kebakaran di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
"Kami sedang berkoordinasi untuk menyiapkan tempat penampungan pedagang agar mereka bisa kembali berdagang," kata Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (15/12).
Tempat penampungan tersebut ditargetkan sudah bisa digunakan dalam waktu tiga hari ke depan agar aktivitas perdagangan tetap berjalan. Selain itu, Agus memastikan para pedagang tetap dapat berjualan, dan aktivitas jual beli di Pasar Induk Kramat Jati tetap normal.
Akitivasi Lapak
Sebelumnya, Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda DKI Jakarta Suharini Eliawati menuturkan, pedagang Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur yang terdampak kebakaran, Senin (15/12), sudah dapat pindah ke tempat penampungan sementara (TPS), Minggu (21/12).
"Para pedagang dapat mulai mengaktivasi kios mereka di TPS mulai hari ini sambil dilanjutkan penyempurnaan lokasi oleh Pasar Jaya,” ujarnya.
Suharini menyampaikan para pedagang telah mengikuti sosialisasi dan pengambilan nomor kios yang dilanjutkan dengan proses aktivasi di TPS yang berjarak sekitar 50 meter dari lokasi kebakaran.
Suparto, pedagang pepaya yang telah berjualan selama 15 tahun di Pasar Induk Kramat Jati, mengatakan, TPS yang menampung 350 kios di atas lahan parkir seluas sekitar 1.800 meter persegi tersebut dapat segera rampung. Namun, ia berharap ke depan lokasi pasar yang terbakar dapat segera dibangun kembali agar aktivitas perdagangan kembali normal.
“Kami ingin secepatnya dibangun ulang dan direnovasi kios yang terbakar agar kami bisa berdagang lagi di tempat semula,” tuturnya.
Tercatat, sebanyak 350 tempat usaha dengan 117 pedagang buah, khususnya pisang dan pepaya, terdampak kebakaran di Pasar Induk Kramat Jati. Pemerintah Provinsi DKI telah menyalurkan bantuan sebesar Rp5 juta kepada masing-masing pedagang terdampak, guna membantu keberlangsungan usaha hingga pasar kembali beroperasi normal.
Selain itu, para pedagang juga diberikan kemudahan dalam pengajuan kredit usaha di Bank Jakarta. Seluruh area terdampak kebakaran telah diasuransikan sehingga proses renovasi selanjutnya akan ditangani melalui mekanisme asuransi.
Ke depan, Pemprov DKI memastikan adanya penambahan fasilitas keselamatan berupa hidran kebakaran di kawasan pasar. Selain itu, penguatan aspek keselamatan dalam proses renovasi juga akan dilakukan, khususnya untuk mencegah korsleting listrik yang diduga menjadi penyebab kebakaran.
Tinggalkan Komentar
Komentar