periskop.id – Grup Riset Tangguh Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah merancang proyek desain hunian sementara (huntara) berbasis material lokal guna mempercepat pemulihan tempat tinggal bagi ribuan penyintas bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

"Bisa jadi warga berada di lokasi pengungsian sebelum ada hunian tetap dalam jangka waktu lama. Jadi, terpal atau tenda sementara rasanya kurang manusiawi," tegas Ardhya Nareswari, salah satu peneliti tim tersebut saat pembangunan mock up huntara di Laboratorium Struktur, Fakultas Teknik UGM, Jumat (19/12).

Inisiatif akademisi ini muncul merespons data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 18 Desember yang mencatat 1.059 korban jiwa dan kerusakan 147 ribu rumah. Banyaknya jumlah korban serta lokasi bencana yang sulit diakses (remote area) membuat proses rekonstruksi hunian tetap (huntap) diprediksi memakan waktu tahunan.

Para peneliti menilai tenda darurat tidak cukup layak memfasilitasi kebutuhan warga dalam durasi tunggu yang panjang tersebut. Prinsip huntara ini harus memanusiakan penyintas dengan ukuran standar 36 meter persegi dan berbasis keluarga, bukan komunal.

Kolaborasi peneliti dari Arsitektur, Teknik Sipil, dan Perencanaan Wilayah Kota UGM ini mengutamakan kearifan lokal dalam desainnya. Mereka memanfaatkan kayu hanyutan sisa banjir yang melimpah di lokasi bencana sebagai material utama struktur bangunan.

Terkait teknis struktur, peneliti lainnya, Ir. Ashar Saputra, menjelaskan bangunan menggunakan papan kayu ukuran 3 x 12 cm. Teknologi yang diterapkan sangat sederhana tanpa sambungan rumit atau takikan, sehingga mudah diaplikasikan.

"Strukturnya hanya pakai baut saja dan alatnya hanya bor. Harapannya sangat sederhana sehingga orang awam dapat membuat rumahnya sendiri. Tempel, gapit, baut," ungkap Ashar mendetailkan proses perakitan.

Konsep partisipatif ini memungkinkan masyarakat membangun sendiri huniannya. Cara ini dinilai jauh lebih cepat daripada menunggu kontraktor membangun rumah satu per satu di lokasi yang tersebar.

Selain efisiensi waktu, pelibatan penyintas bertujuan meningkatkan rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap hunian baru mereka. "Masyarakat juga akan merasa lebih memiliki, karena ikut serta dalam pembuatannya," tambah Ashar.

Hunian kayu ini diproyeksikan tahan 3 hingga 5 tahun. Durasi ini cukup untuk menaungi warga selama proses relokasi atau pembangunan rumah permanen yang membutuhkan studi kelayakan panjang.

Sebelumnya, proyek serupa sukses diterapkan di Yogyakarta, Lombok, dan Palu dengan penyesuaian material. Jika Lombok menggunakan baja karena akses mudah dari Jawa, kondisi Sumatra menuntut penggunaan material yang tersedia di alam sekitar akibat sulitnya logistik.

Saat ini, proyek berada pada tahap penyempurnaan desain teknis dan mock-up. Tim UGM selanjutnya akan menyusun modul pelatihan, brosur, dan poster panduan agar masyarakat lokal dapat segera menduplikasi desain ini secara mandiri.

"Harapannya, nanti kita susun juga modul untuk pelatihan, karena kita ingin warga lokal sendiri yang melaksanakan supaya mereka bisa lebih cepat mendapat rumah mereka kembali," pungkas Nares.