Periskop.id - Asisten Perekonomian dan Keuangan DKI Jakarta Suharini Eliawati menyebutkan, kenaikan harga daging sapi di Jakarta saat ini, terjadi salah satunya dipicu aksi mogok oleh sejumlah pedagang.
“Memang kemarin sempat terjadi lonjakan, karena memang tiga hari, waktu itu, kawan-kawan pemotong menyatakan mogok gitu, ya," ujar Eliawati di Jakarta Pusat, Jumat (6/2).
Namun, dia menegaskan dampak dari aksi tersebut tidak berlangsung lama karena koordinasi lintas sektor berjalan cepat. “Karena koordinasi kita yang kuat, BUMD mempunyai support yang sangat tinggi, kemudian stok kita itu memang benar-benar ada gitu, jadi mereka hanya mogok satu hari, dan itu berpengaruh terhadap harganya," jelas Eli.
Saat ini, kata dia, harga daging sapi di pasaran bervariasi, tergantung pada spesifikasi dan kadar lemaknya. Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan masyarakat memilih daging sapi sesuai dengan kebutuhan dan daya beli.
“Saat sekarang ini, memang terjadi perbedaan harga sesuai spesifikasi, tertinggi di angka Rp143 ribu, itu has dalam. Tapi bagaimana kemudian dengan CL 5 gitu, kalau kita bilang, ya, kalau perlemakannya hanya 5%, itu di bawah Rp100 ribu," tutur Eli.
Sekadar infirmasi, dalam sebulan terakhir, harga daging sapi di Jakarta mengalami kenaikan moderat.Berdasarkan data panel harga pangan nasional (PIHPS/Bapanas), harga harian rata-rata di pasar tradisional Jakarta naik dari sekitar Rp137.500 per kg menjadi sekitar Rp140.850 per kg, atau sekitar +2,4% sampai +2,5% dalam 30 hari terakhir. Selain itu, sejumlah laporan lokal mencatat harga daging di tingkat konsumen bahkan sempat menembus Rp150.000 per kg. Kenaikan ini dipengaruhi oleh faktor pasokan nasional. Termasuk kebijakan kuota impor yang lebih ketat dan tekanan biaya impor ternak hidup.
Sebagai bagian dari strategi stabilisasi, sambungnya, Pemprov DKI juga memperluas akses distribusi pangan murah agr lebih mudah dijangkau masyarakat. Eli mengatakan, distribusi pangan murah sudah dilakukan di 197 titik, sehingga diharapkan dapat memudahkan masyarakat Jakarta untuk mendapatkan daging sapi.
“Hanya memang yang menjadi tantangan kita adalah kita akan senantiasa memperbaiki sistemnya sehingga masyarakat tidak akan kesulitan untuk masuk di dalam kuota," ungkap Eli.
Naik Hingga Rp150 Ribu
Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mencatat, kenaikan harga daging sapi sekitar tujuh hingga 15% di tingkat eceran, dengan harga mencapai Rp150.000 per kilogram (kg).
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan, kenaikan harga dipicu oleh tingginya harga sapi hidup di tingkat produsen yang melampaui kesepakatan Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Memang saat ini ada kenaikan harga daging sapi di pasar eceran sekitar 7 persen hingga 15 persen dengan harga mencapai Rp 150.000/kg. Hal ini dipicu oleh tingginya harga sapi hidup di tingkat produsen yang melampaui kesepakatan Bapanas,” ujar Hasudungan beberapa waktu lalu.
Untuk menekan harga dan menjaga daya beli masyarakat, kata Hasudungan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan sejumlah langkah. Ia memastikan operasional Rumah Potong Hewan (RPH) juga tetap berjalan normal tanpa tambahan biaya pemeriksaan.
Selain itu, Perumda Dharma Jaya menyalurkan sapi hidup dengan harga lebih murah, yakni Rp54.000 per kg berat hidup untuk menekan harga pasar. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga menyediakan daging sapi bersubsidi seharga Rp35.000 per kg, bagi sekitar satu juta warga penerima manfaat.
Sementara itu, melalui program Gerakan Pasar Murah, daging sapi dijual dengan harga Rp109.000 hingga Rp139.000 per kg di berbagai lokasi. Hasudungan mengatakan, pemerintah pusat telah menyepakati penurunan harga sapi hidup menjadi Rp55.000 per kg sejak 22 Januari 2026.
“Kami optimistis harga daging sapi di pasaran akan kembali stabil dalam waktu dekat, terutama menjelang Idulfitri," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar