periskop.id - Indkeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Kamis 18 Desember 2025 dibuka di zona hijau. IHSG n0,44% ke level 8.715,589. Sebanyak 311 saham menguat, 117 saham terkoreksi, dan 209 saham stagnan saat berita ditulis.

Secara teknikal, IHSG masih dalam posisi uptrend dalam jangka menengah panjang. Namun dalam jangka pendek, masih cenderung bergerak konsolidasi. Stochastic RSI yang membentuk Golden Cross di dekat area oversold membuka peluang rebound jangka pendek. 

“IHSG diperkirakan masih akan berkonsolidasi di kisaran 8.600-8.750, selama ditutup di bawah level 8.750,” ulas Tim Riset Phintraco Sekuritas, Kamis (18/12). Beberapa saham pilihan Phintraco Sekuritas yang menarik dicermati hari ini, antara lain MAPA, MAPI, INCO, NCKL dan CNMA.

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah di level 8,677.35 atau turun 0,11% pada perdagangan Rabu (17/12), setelah bergerak sideways dalam kisaran sempit. Bersamaan dengan itu, rupiah ditutup melemah di level Rp16,694/US$, meskipun BI mempertahankan BI Rate tetap dan indeks Dolar AS melemah. 

Seperti yang diperkirakan, dalam RDG 16-17 Desember 2025 BI kembali menahan BI Rate tetap pada level 4.75%. Suku bunga Deposit Facility tetap di level 3.75% dan suku bunga Lending Facility tetap di 5.5%. Keputusan BI ini sebagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dengan tetap memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial serta mendorong perekonomian nasional.

“BI masih membuka peluang penurunan suku bunga ke depannya dengan mencermati data inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi,” tulis riset yang sama.

Data pertumbuhan kredit berakselerasi menjadi 7,74% YoY pada November 2025 dari 7,36% pada Oktober 2025. Ini menandai pertumbuhan tercepat sejak Juni. Meskipun demikian, jumlah undisbursed loan masih relatif tinggi, yaitu mencapai Rp2,509.4 triliun di bulan November 2025, atau setara dengan 23.18% dari total kredit yang disetujui.

Meskipun BI Rate telah turun sebesar 125 bps pada tahun 2025, namun penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat, yaitu sebesar 24 bps dari 9.2% pada awal 2025 menjadi sebesar 8.96% di November 2025.

Indeks di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (17/12). Berlanjutnya koreksi indeks karena investor terus melakukan rotasi dari saham-saham utama di bidang kecerdasan buatan, dipicu oleh laporan bahwa investor utama Oracle menarik diri dari salah satu proyek pusat datanya.

Saham Oracle telah menjadi contoh utama kekhawatiran terkait pembangunan pusat data AI, karena investor khawatir tentang jumlah modal yang dibutuhkan untuk proyek-proyek tersebut, pengembalian modal akhirnya, dan sifat siklus dari kesepakatan tersebut.

Gubernur Fed Christopher Waller mengatakan bahwa bank sentral AS masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga di tengah kekhawatiran bahwa pasar tenaga kerja telah melambat. Beberapa indikator lain juga mengindikasikan perlambatan ekonomi AS. Indeks PMI  menunjukkan pertumbuhan di sektor manufaktur dan jasa lebih rendah dari yang diperkirakan di Desember. Sementara itu investor akan menantikan data inflasi CPI  AS bulan November (18/12).

Dari Eropa, investor akan menantikan keputusan moneter Bank of England dan European Central Bank (18/12). Diperkirakan BoE akan menurunkan suku bunga menjadi 3.75% dari 4% dan ECB diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di 2.15%.

U.S. 10-year Bond Yield cenderung stabil di level 4.155%. Harga emas spot menguat 0.7% ke level US$4,332/troy oz (17/12). Harga emas menguat karena harapan akan penurunan suku bunga oleh the Fed kembali muncul setelah tanda-tanda pasar tenaga kerja yang lemah serta karena meningkatnya ketegangan AS-Venezuela meningkatkan permintaan aset safe-haven.