periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Senin 22 Desember 2025 diperkirakan melanjutkan koreksi. Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level MA5 dan MA20. Negative slope MACD berlanjut melebar. Stochastic RSI berlanjut melemah di area oversold, namun belum ada indikasi reversal.

“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menguji level 8.500-8.550,” ulas Tim Riset Phintraco Sekuritas, Senin (22/12). Beberapa saham yang menarik dicermati saat ini, antara lain SIDO, ISAT, AMMN, MYOR, MIDI dan JSMR.

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah pada level 8.609,55 atau turun 0,10% di perdagangan Jumat (19/12). Sektor transportasi mengalami koreksi terbesar, sedangkan sektor noncyclical membukukan kenaikan terbesar. Rupiah di pasar spot berlanjut melemah di level Rp16,750/US$, di tengah mayoritas mata uang Asia yang cenderung melemah.

Data penjualan mobil domestik turun 0.8% YoY menjadi 74,252 unit di November 2025. Penurunan ini melambat dibandingkan bulan Oktober 2025 yang mencatatkan penurunan sebesar 4.4% YoY. Untuk periode Januari-November 2025, total penjualan mobil mencapai 710 ribu unit, turun sekitar 10% YoY dari periode sama tahun 2024.

Pemerintah sendiri mengindikasikan tidak akan melanjutkan insentif kendaraan listrik pada tahun 2026, untuk mendorong produsen otomotif membangun fasilitas produksi di dalam negeri. 

Sementara itu, seperti yang diperkirakan Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 0.75% (19/12), yang merupakan level tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Ini merupakan kenaikan suku bunga yang kedua kalinya pada tahun ini, setelah kenaikan pertama pada Januari 2025.

BOJ juga menyatakan ada potensi kenaikan suku bunga akan berlanjut jika kondisi ekonomi membaik dan inflasi tetap tinggi. BOJ memperkirakan inflasi inti akan melamnbat hingga di bawah target 2% pada semester I 2026 sebelum kemudian meningkat secara stabil.

Yen Jepang juga melemah meskipun BOJ menaikkan suku bunga, karena ketidakpastian kapan dan berapa banyak kenaikan berikutnya akan terjadi serta suku bunga acuan Jepang yang masih relatif rendah dibandingkan dengan suku bunga AS dan negara maju lainnya.