periskop.id - Pasar modal Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan dinamika positif berkat peran aktif anak perusahaan Self-Regulatory Organization (SRO) yang tidak hanya mendukung regulasi dan pengawasan, tetapi juga mendorong inovasi, edukasi, teknologi, serta perlindungan investor.
"Keberhasilan ini tidak lepas dari kontribusi strategis anak perusahaan SRO. Kontribusi strategis mereka memperkuat fondasi pasar modal dan meningkatkan kepercayaan investor," ujar Direktur Utama BEI Iman Rachman dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (30/12).
Salah satu anak perusahaan yang turut memberikan capaian positif adalah PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), yang menjadi salah satu pelopor inovasi dengan memperoleh izin OJK sebagai Penyedia Jasa Review Eksternal Efek Bersifat Utang (EBUS) berbasis prinsip keberlanjutan.
Tidak hanya itu, PEFINDO juga meluncurkan Mutual Fund Assessment System untuk penilaian reksa dana dan menjalin kerja sama strategis dengan lembaga credit rating China (CCXI), memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.
Kemudian, dari sisi pendidikan dan pengembangan SDM, The Indonesia Capital Market Institute (TICMI) konsisten menghadirkan program pelatihan, sertifikasi profesional, dan layanan riset. Peluncuran TICMI Research & Consulting (TRC) menjadi bukti komitmen lembaga ini dalam menyediakan solusi riset dan konsultasi yang mendukung pengambilan keputusan pasar yang lebih tepat dan berbasis data.
Perlindungan investor juga menjadi fokus utama, yang diwujudkan oleh PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI). Dengan penerapan prinsip syariah dalam Dana Perlindungan Pemodal (DPP) dan partisipasi aktif dalam Forum Investor Protection Fund Asia Pacific, P3IEI memastikan aset investor tetap aman.
Hingga akhir 2025, DPP mencatat aset sebesar Rp9,912 triliun dan melindungi 13,5 juta subrekening efek, menunjukkan komitmen nyata terhadap keamanan investasi.
Sementara itu, PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) menyiapkan produk inovatif untuk memenuhi kebutuhan pasar modal, seperti Sistem Valuasi Obligasi Berdenominasi Yen, ESG Bond Index, dan Valuasi Sukuk Bank Indonesia (SUKBI) yang akan diluncurkan pada 2026.
Dalam ranah media dan komunikasi, PT Tivi Bursa Indonesia (IDX Channel) meraih prestasi digital dengan Golden Button YouTube setelah menembus lebih dari 1 juta subscriber, memperluas jangkauan informasi pasar modal ke publik.
Di bidang pendanaan, PT Pendanaan Efek Indonesia (PEI) mencatat transaksi harian tertinggi sebesar Rp372,5 miliar dan memperoleh sertifikasi ISO 37001:2016 terkait Sistem Manajemen Anti Penyuapan. PEI juga memperkuat kerja sama internasional dengan lembaga sekuritas di Korea, Jepang, Thailand, dan China, menegaskan perannya sebagai penghubung global.
PEFINDO Biro Kredit (PBK) turut memperkuat ekosistem dengan menghadirkan Eagle System, sistem pemrosesan data kredit nasabah yang lebih cepat dan akurat, sekaligus mendukung kepatuhan regulasi dan literasi keuangan.
Sebagai penutup tahun 2025, PT IDX Solusi Teknologi Informasi (IDXSTI) memberikan penguatan layanan digital dan keamanan infrastruktur. Layanan seperti Direct Connect Low Latency, Disaster Recovery as a Service, IDX Terminal, e-KYC, WhatsApp Business, serta laporan berbasis AI memastikan operasional pasar modal lebih efisien, transparan, dan aman.
"Dengan sinergi dan inovasi dari seluruh anak perusahaan SRO ini, pasar modal Indonesia siap menyongsong 2026 dengan fondasi yang lebih kuat, inovatif, dan berkelanjutan, serta mampu meningkatkan kepercayaan investor baik di tingkat domestik maupun global," tutup Iman.
Tinggalkan Komentar
Komentar