periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Senin 5 Januari 2025 berpotensi melanjutkan penguatan. IHSG berpotensi terimbas sentimen negatif jika terjadi tekanan jual dari investor asing. Namun jika terjadi kenaikan harga minyak mentah dan emas, diperkirakan akan mendorong kenaikan harga saham sektor energi dan komoditas terkait.

Data inflasi, trade balance, cadangan devisa dan consumer confidence akan dirilis pekan ini. Secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG berlanjut menguat di area pivot. Hal ini diperkuat oleh berlanjutnya penyempitan histogram negatif MACD.

“Volume beli juga mengalami kenaikan. Sehingga diperkirakan IHSG melanjutkan penguatan dan berpotensi menuju level tertinggi baru menguji level psikologis di 8.800,” ulas Tim Riset Phintraco Sekuritas, Senin (5/12). Beberapa saham yang menarik dicermati pada perdagangan pekan ini, antara lain PYFA, ASSA, HMSP, PNBN, DATA dan SCMA.

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat pada level 8,748.13 atau naik 1,17% pada perdagangan Jumat (2/1). Saham sektor transportasi membukukan penguatan terbesar dan sektor keuangan mengalami koreksi terbesar. Rupiah ditutup melemah pada level Rp16,725/US$ di pasar spot(2//1), seiring dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap Dolar AS.

Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia turun pada level 51.2 dari 53.3 di November 2025, serta lebih rendah dibandingkan estimasi pada level 53.6. Meskipun demikian indeks ini masih menunjukkan adanya ekspansi manufaktur selama lima bulan berturut-turut. Penurunan ini akibat pertumbuhan pesanan baru yang melambat, namun masih dalam fase ekspansi. Pada pekan depan dijadwalkan akan dirilis data neraca perdagangan dan inflasi. 

Menteri Keuangan Purbaya mengungkapkan dana total dana pemerintah sebesar Rp276 triliun yang ditempatkan di perbankan, sebesar Rp75 triliun telah ditarik untuk kebutuhan belanja rutin Kementerian dan Lembaga. Hal ini karena realisasi dampak kebijakan tersebut terhadap pertumbuhan kredit perbankan masih di bawah estimasi sebelumnya.

“Pertumbuhan kredit masih stabil di kisaran level 7%, yang diperkirakan dipengaruhi oleh suku bunga kredit perbankan masih bertahan di sekitar level 8,96% per November 2025 meskipun BI Rate berada di level 4,75%,” tulis riset yang sama.

Dari luar negeri, indeks di Wall Street ditutup mixed pada perdagangan pertama di tahun 2026. Penguatan didorong oleh kenaikan pada saham produsen chip, namun melemahnya saham sektor teknologi di luar chip membebani indeks.

Sementara itu AS menyerang  Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela bersama istrinya untuk didakwa di  New York atas tuduhan terorisme dan narkoba  (3/1). Trump menyatakan AS akan mengendalikan Venezuela hingga terjadi transisi kekuasaan serta menyatakan perusahaan AS akan masuk ke Venezuela untuk memperbaiki struktur minyak di negara tersebut. 

“Eskalasi ketegangan politik global akibat serangan AS ke Venezuela akan menjadi fokus perhatian investor pada pekan ini,” sebut Phintraco.

Dikhawatirkan investor akan menghindari aset yang berisiko dan beralih ke instrumen investasi yang lebih aman seperti Dolar AS dan emas. Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi dari AS, seperti data tenaga kerja, manufaktur dan Michigan consumer confidence.