periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menghadapi fase krusial pada awal pekan ini, seiring potensi pergerakan fluktuatif yang mengarah pada pengujian level psikologis 9.000 pada perdagangan hari ini Senin 19 Januari 2026. Area tersebut menjadi titik kunci yang akan menentukan keberlanjutan tren penguatan IHSG setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

"Pada awal pekan ini, IHSG berpotensi menguji level support pada 9.000,” tulis Technical Analyst WH Project William Hartanto dalam riset hariannya, Senin (19/1).

Menurut Wiliam level 9.000 kini berperan sebagai benteng utama pergerakan indeks. Keberhasilan IHSG bertahan di atas area ini akan membuka peluang lanjutan tren naik, sementara kegagalan menjaga support berpotensi memicu konsolidasi lanjutan dalam jangka pendek.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Kamis 15 Januari 2026, IHSG ditutup menguat 42,82 poin atau 0,47% ke posisi 9.075,41. Penguatan tersebut tidak hanya memperpanjang reli indeks, tetapi juga menegaskan IHSG berada di zona rekor tertinggi sepanjang masa (all time high), mencerminkan solidnya sentimen pasar domestik.

Kenaikan ini sekaligus mengonfirmasi berakhirnya fase koreksi jangka pendek yang sebelumnya membayangi pergerakan IHSG. Level 9.000 yang sempat menjadi area resistance kuat kini dinilai telah berubah fungsi menjadi support baru. Transformasi ini memperkuat struktur tren naik IHSG secara teknikal.

William menilai secara keseluruhan kondisi IHSG masih berada dalam fase bullish yang sehat. Status all time high membuat indeks belum memiliki level resistance terdekat yang terdefinisi dengan jelas, sehingga ruang kenaikan masih terbuka. Aliran dana ke pasar saham dinilai masih cukup kuat untuk menopang pergerakan indeks dalam jangka menengah.

Meski demikian, pasar tetap perlu mencermati potensi aksi ambil untung dalam waktu dekat. Pada perdagangan akhir pekan lalu, terbentuk pola candlestick doji, yang secara teknikal mencerminkan adanya keseimbangan antara tekanan beli dan jual setelah fase kenaikan yang agresif. Pola ini kerap menjadi sinyal awal terjadinya jeda atau koreksi terbatas.

“Doji menunjukkan adanya keraguan pelaku pasar setelah penguatan yang cukup signifikan. Oleh karena itu, peluang koreksi teknikal tetap perlu diantisipasi, meskipun tren utama IHSG masih berada dalam jalur penguatan,” jelas William.

Dengan demikian, pergerakan IHSG pada awal pekan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuannya menjaga level 9.000. Selama area tersebut mampu dipertahankan, tren naik berpeluang berlanjut.

Namun jika tekanan jual meningkat dan support gagal dijaga, IHSG berpotensi bergerak lebih terbatas sambil membentuk konsolidasi baru sebelum melanjutkan arah berikutnya. Berikut beberapa saham yang direkomendasikan secara teknikal oleh WH Project pada perdagangan hari ini Jumat, 19 Januari 2026:

BUMI, sell on strength, estimasi target pelemahan 368–394
DKFT, buy, estimasi target 1.000
SMDR, buy, estimasi target 430-454
BBTN, buy, estimasi target 1330

 

Disclaimer: Informasi ini disajikan sebagai referensi dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Keputusan jual beli saham sepenuhnya berada di tangan pembaca. Segala risiko dan konsekuensi yang timbul menjadi tanggung jawab masing-masing investor.