periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pasca pergantian jajaran direksi Bursa dan sejumlah Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan bagian dari proses normalisasi pasar. Menurutnya, pergerakan tersebut mencerminkan penyesuaian portofolio pelaku pasar di tengah dinamika dan sentimen yang berkembang.
"Ya kita tunggu aja, itu kan normalisasi. Normalisasi daripada portofolio," kata Airlangga kepada media, Jakarta, Selasa (3/2).
Pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026, IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 406,88 poin atau 4,88% ke level 7.922,73. Sepanjang sesi, IHSG bergerak di zona merah dengan rentang 7.820,23 hingga 8.313,06, setelah dibuka di level 8.306,16.
Berdasarkan data RTI, volume transaksi tercatat mencapai 50,42 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp29,18 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,95 juta kali.
Bahkan tekanan terhadap IHSG terjadi di tengah pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membahas potensi perubahan klasifikasi pasar Indonesia.
Pelaku pasar masih mencermati keputusan MSCI yang dinilai akan berdampak signifikan terhadap arus modal asing. Ketidakpastian tersebut mendorong aksi jual di hampir seluruh sektor, sehingga menekan IHSG ke zona pelemahan yang dalam.
Pada perdagangan hari ini, Selasa (3/2), IHSG mulai menggeliat di zona hijau. IHSG terpantau naik 1,64% ke level 8.052 saat berita ditulis. Namun sejak awal tahun atau secara year to date (YTD), IHSG turun 7,96%.
Tinggalkan Komentar
Komentar