periskop.id - Ancaman penurunan kasta pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market akibat volatilitas ekstrem sepekan terakhir disebut semakin nyata.
Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto mengingatkan kondisi tersebut akan mempersulit pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional.
"Kalau masuk frontier market, jadi saudaranya Bangladesh, Burkina Faso. Itu akan jadi sesuatu yang lebih challenging bagi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%," ujarnya dalam Diskusi Publik "Pertumbuhan di Tengah Gejolak Pasar Saham" secara daring, Kamis (5/2).
Eko menyoroti masa-masa kelam bursa saham domestik belakangan ini sebagai peringatan serius. Pasar modal mengalami guncangan hebat hingga memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt berulang kali dalam waktu singkat.
Penurunan status pasar bukan sekadar perubahan label semata di mata investor global. Dampak fatalnya akan merembet ke pasar obligasi yang menyebabkan imbal hasil atau yield menjadi jauh lebih mahal bagi negara.
Posisi Indonesia di kategori Emerging Market saat ini sebenarnya masih membebani fiskal dengan biaya dana cukup tinggi. Beban ini dipastikan semakin mencekik jika status pasar modal turun kasta sejajar dengan negara-negara frontier.
Keraguan lembaga riset internasional seperti MSCI terhadap fundamental emiten di Indonesia memperburuk sentimen pasar. Dugaan praktik penggorengan saham membuat valuasi perusahaan dinilai tidak mencerminkan realitas ekonomi yang sebenarnya.
Sentimen negatif ini memukul kepercayaan investor asing secara signifikan. Aliran modal keluar atau capital outflow terjadi masif dan turut menekan stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
Publik di media sosial turut menangkap sinyal bahaya ini dengan respons negatif yang masif. Data percakapan di platform X menunjukkan ribuan warganet mengkhawatirkan Indonesia semakin turun kelas akibat ketidakpastian otoritas bursa.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) didesak segera memulihkan kepercayaan pasar lewat langkah konkret. Pembenahan tata kelola dan transparansi mutlak dilakukan demi mencegah manipulasi harga saham terulang kembali.
Eko menegaskan pasar saham memiliki fungsi vital sebagai mekanisme sinyal kedisiplinan korporasi. Kinerja emiten yang transparan akan membantu mobilisasi modal lebih efisien guna menopang sektor riil.
Upaya menjaga stabilitas pasar modal menjadi kunci vital menghadapi tantangan ekonomi tahun 2026. Ambisi pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi akan menghadapi jalan terjal tanpa dukungan lantai bursa yang sehat.
"Tentu lebih bergantung dari sektor riil, tetapi dinamika yang terjadi di pasar saham itu juga turut menentukan," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar