periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis, 26 Februari 2026 berpotensi memasuki fase konsolidasi setelah penutupan menguat pada perdagangan sebelumnya. Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas rata-rata bergerak 5 hari (MA5) dan 20 hari (MA20).

Indikator Stochastic RSI menunjukkan IHSG berada di area overbought, sementara MACD mulai memperlihatkan penyempitan pada slope positif. Kondisi ini mengindikasikan adanya potensi konsolidasi jangka pendek pada area 8.250-8.350.

“Sehingga, IHSG berpotensi terkosolidasi pada area 8.250-8.350 pada perdagangan Kamis (26/2),” ulas Tim Riset Phintraco Sekuritas, Kamis (25/2). Beberapa saham pilihan Phintraco Sekuritas yang menarik dicermati pada perdagangan hari ini antara lain MEDC, ELSA, KLBF, BKSL, dan ASII.

Pada perdagangan Rabu (25/2), IHSG ditutup menguat di level 8.322 atau naik 0,5% dibandingkan hari sebelumnya. Faktor positif berasal dari rebound di Wall Street pada Selasa (24/2) serta penguatan mayoritas indeks di bursa Asia pada Rabu (25/2).

Secara sektoral, sektor kesehatan memimpin penguatan dengan kenaikan 2,73%, diikuti sektor consumer cyclical yang naik 2,71%, dan sektor industri yang meningkat 2,21%. Selain itu, nilai tukar rupiah turut menguat 0,21% menjadi Rp16.780 per dolar AS pada Rabu (25/2).

Dari Amerika Serikat, pidato kenegaraan Presiden Trump pada 25 Februari 2026 mencakup beberapa poin, antara lain menyerukan pembentukan program pensiun yang didukung pemerintah, mendorong Kongres untuk mengesahkan UU yang membatasi investor institusi membeli rumah keluarga tunggal, serta menekankan keberhasilan dalam mendorong ekonomi dan memerangi inflasi.

Dari Eropa, investor akan mencermati Economic Sentimen Euro Area untuk Februari 2026 yang diperkirakan naik tipis menjadi 99,5 dari sebelumnya 99,4. Data ini menjadi indikator awal sentimen konsumen dan ekspektasi bisnis di kawasan euro.

Sementara dari Amerika Serikat, investor juga menunggu data Initial Jobless Claims pekan lalu yang diperkirakan naik menjadi 210 ribu dari 206 ribu. Angka ini menjadi perhatian pasar karena mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja dan potensi tekanan inflasi di ekonomi AS.