periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat diperkirakan masih dalam tren melemah. Secara teknikal, IHSG telah menutup gap di 6.092. Jika terkanan berlanjut, IHSG berpotensi turun di bawah level 6.000.
“Jika tekanan jual berlanjut, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis di 6.000. Support kuat berikutnya di level 5.882,” ulas tim riset Phintraco Sekuritas, Jumat (22/5).
Beberapa saham pilihan Phintraco Sekuritas yang menarik dicermati pada perdagangan hari ini, antara lain HMSP, INDF, TINS, WIIM dan CPIN.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah di level 6,094.91 atau turun 3,54% pada perdagangan Kamis (21/5). Di tengah minimnya katalis positif, IHSG kembali mengalami tekanan jual akibat sentimen negatif yang datang bertubi-tubi.
Di saat situasi eksternal yang kurang kondusif karena adanya konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan dan penutupan Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak mentah lebih lama dari perkiraan, Pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan yang direspon negatif oleh investor karena dinilai berdampak negatif terhadap iklim investasi dalam jangka pendek.
Di sisi lain, berbagai kebijakan baru Pemerintah tersebut kemungkinan dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan negara sehingga dapat menutup defisit APBN. Sementara itu rebalancing FTSE dan MSCI juga berpotensi masih akan menjadi faktor negatif yang membayangi pergerakan indeks di BEI.
“Saham perbankan diperkirakan masih akan tertekan menyusul pernyataan Fitch Ratings, bahwa peringkat jangka panjang bank Himbara sangat dipengaruhi oleh dukungan Pemerintah,” tulis riset yang sama.
Fitch menyatakan bahwa peringkat bank Himbara berada pada level yang sama dengan peringkat Indonesia di BBB/Negatif. Hao itu mencerminkan potensi kurangnya kemampuan Pemerintah dalam memberi dukungan kepada perbankan jika tekanan fiskal meningkat.
Sedangkan S&P Global Ratings menyatakan bahwa rencana Indonesia untuk mengendalikan ekspor komoditas secara terpusat berpotensi merugikan ekspor yang dapat menekan pendapatan negara dan berdampak terhadap neraca pembayaran. Sehingga kami masih mencermati saham tambang BUMN dan mewaspadai risiko tekanan lanjutan pada saham tambang non-BUMN.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar