periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada sesi pertama perdagangan Kamis (21/5/2026). IHSG tercatat melemah 174,14 poin atau 2,76% ke level 6.144, berbanding terbalik dengan mayoritas bursa Asia yang justru menguat.

Pelemahan IHSG terjadi di tengah kombinasi sentimen global yang mulai membaik namun dibayangi tekanan kuat dari faktor domestik.

Dari eksternal, pasar regional Asia bergerak positif didorong optimisme geopolitik. Harapan baru muncul dari perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang disebut telah memasuki tahap akhir. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, termasuk kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz.

“Meningkatnya optimisme terhadap potensi kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran juga turut meredakan kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan suku bunga,” mengutip ulasan Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas, Kamis (21/5).

Namun, sentimen positif global tersebut tidak cukup menahan tekanan di pasar domestik. Dari dalam negeri, kebijakan pemerintah menjadi sorotan utama setelah Presiden Prabowo memperketat aturan ekspor sejumlah komoditas strategis seperti minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy.

Kebijakan tersebut mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara, yang dinilai berpotensi menekan aktivitas perdagangan dan minat investor.

“Meski bertujuan baik untuk mengeliminasi praktik under-invoicing dan kebocoran pendapatan negara, implementasinya dikhawatirkan dapat mengganggu operasional pelaku perdagangan serta menurunkan minat investor asing,” tulis riset yang sama.

Selain itu, tekanan juga datang dari nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tren melemah terhadap dolar AS. Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara agresif, langkah tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menahan gejolak eksternal maupun mengembalikan kepercayaan investor asing.

Pelaku pasar juga tengah mencermati agenda global penting, yakni rilis Quarterly Review FTSE Global Equity Index Series pada 22 Mei 2026. Keputusan dari penyedia indeks global tersebut berpotensi memicu pergerakan signifikan aliran dana asing di pasar saham Indonesia.

Perombakan komposisi indeks FTSE diyakini akan memengaruhi likuiditas, arah arus modal, hingga volatilitas harga saham tertentu di Bursa Efek Indonesia.

Pada sesi pertama hari ini, saham-saham yang mencatatkan kenaikan terbesar antara lain SOTS, KOBX, ALKA, UNIC, dan ZONE. Sementara itu, saham-saham dengan penurunan terdalam meliputi LCKM, KDTN, LAND, ENZO, dan CBRE.