periskop.id - Samsung disebutkan menghentikan pengembangan ponsel tipis Galaxy S26 Edge setelah penjualan seri sebelumnya tidak memenuhi ekspektasi.

Melansir laporan Gizmochina pada Senin (22/12), perusahaan sempat mempertimbangkan mengganti model Galaxy S26+ dengan versi Edge pada 2026, namun rencana itu akhirnya dibatalkan. 

“Sejumlah sumber menyebut proyek tersebut telah dibatalkan sepenuhnya,” tulis Gizmochina.

Galaxy S25 Edge sebelumnya hadir dengan desain ultra-tipis yang menjadi daya tarik utama. Namun, keputusan itu membawa konsekuensi besar. Baterai berkapasitas 3.900 mAh dianggap kurang memadai untuk penggunaan sehari-hari.

Selain masalah baterai, desain ramping juga berdampak pada konfigurasi kamera. Galaxy S25 Edge tidak dilengkapi lensa telefoto, sementara pesaingnya, iPhone Air, hanya memiliki satu kamera belakang.

Tren pasar menunjukkan konsumen lebih memprioritaskan daya tahan baterai, performa, dan sistem pendinginan dibandingkan sekadar desain tipis. 

Riset Counterpoint Research 2025 mencatat bahwa 64% pengguna smartphone di Asia Tenggara menempatkan “daya tahan baterai” sebagai faktor utama dalam keputusan pembelian, jauh di atas “desain tipis” yang hanya dipilih 18%.

Apple pun menghadapi tantangan serupa. Laporan pada Oktober 2025 menyebutkan bahwa produksi iPhone Air dipangkas hingga satu juta unit karena permintaan yang melemah. Tanpa dorongan kuat dari pesaing utama, Samsung melihat sedikit alasan untuk terus berinvestasi dalam kategori yang niche ini.

Keputusan Samsung mencerminkan pergeseran strategi industri. Perusahaan kini diperkirakan akan kembali fokus pada desain ponsel unggulan yang lebih seimbang, dengan kombinasi performa, kamera, dan daya tahan baterai. Pendekatan ini dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan pasar global.

Fenomena ini juga menandai perubahan tren teknologi. Meski ponsel ultra-tipis sempat menjadi sorotan, konsumen kini lebih rasional dalam memilih perangkat. Mereka menuntut keseimbangan antara estetika dan fungsi, terutama di era penggunaan intensif untuk kerja, hiburan, dan komunikasi.

Jika tren ini berlanjut, tahun 2026 bisa menjadi masa jeda atau bahkan akhir dari eksperimen ponsel ultra-tipis baik dari Samsung maupun Apple. Industri smartphone kemungkinan akan bergerak ke arah inovasi lain, seperti peningkatan kecerdasan buatan, efisiensi energi, dan kamera berteknologi tinggi.