Periskop.id - Lanskap politik dan ekonomi dunia kini tengah mengalami pergeseran fundamental. Dari era unipolar yang didominasi oleh satu kekuatan utama, dunia kini bergerak menuju tatanan multipolar dengan banyak pusat kekuatan.
Dalam realitas baru ini, Amerika Serikat dan China secara tegas telah membangun wilayah pengaruhnya masing-masing, menciptakan persaingan ekonomi paling ketat dalam sejarah modern.
Berdasarkan data dari Visual Capitalist, ekonomi China telah mencatatkan pertumbuhan luar biasa sebesar 586% sejak awal tahun 2000. Pencapaian ini menempatkan Negeri Tirai Bambu tersebut dengan nyaman sebagai mitra dagang terbesar di dunia.
Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) mulai menerapkan kebijakan perdagangan yang cenderung lebih protektif. Langkah ini secara perlahan mulai mengubah arah aliansi lama yang sebelumnya telah terjalin kokoh selama berpuluh-puluh tahun.
Rapor Ekonomi Kekuatan Global Lainnya
Memasuki tahun 2025, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) riil AS akan tumbuh sebesar 2%. Meskipun angka ini sedikit di bawah rata-rata pertumbuhan selama seperempat abad terakhir, aktivitas ekonomi AS masih ditopang kuat oleh belanja konsumen serta ledakan investasi pada sektor kecerdasan buatan (AI).
Menariknya, perubahan kebijakan perdagangan yang diterapkan sejak era pemerintahan Donald Trump belum menunjukkan dampak besar yang terukur secara langsung terhadap kinerja ekonomi AS secara keseluruhan. Namun, para ahli memprediksi efek samping seperti peningkatan biaya usaha dan perubahan arah investasi global baru akan terlihat lebih nyata pada tahun 2026 mendatang.
Sementara itu, China diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,8% pada tahun 2025 dengan total nilai ekonomi mencapai sekitar US$19,4 triliun. Kendati menghadapi tarif dagang yang lebih tinggi dari Amerika Serikat, China tetap memegang kendali vital dalam rantai pasok global. Hal ini terutama disebabkan oleh dominasi mereka dalam produksi serta pemurnian mineral kritis yang sangat dibutuhkan industri teknologi dunia.
Di Eropa, Jerman tetap menjadi ekonomi terbesar namun tengah menghadapi masa sulit. Meski telah menggelontorkan dana lebih dari US$500 miliar untuk pembangunan infrastruktur, ekspor yang melemah dan pertumbuhan PDB yang rendah memberikan gambaran suram bagi negara tersebut.
Berbeda dengan India yang terus menunjukkan tajinya di peringkat kelima dunia dengan nilai ekonomi sekitar US$4,1 triliun, setelah tumbuh lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2000.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia mencatatkan angka yang sangat mengejutkan dalam peta persaingan ini. Berdasarkan data Bank Dunia, sejak tahun 2000 hingga tahun 2024, PDB riil Indonesia telah menembus pertumbuhan hingga 746%. Sebuah angka yang menunjukkan potensi luar biasa sebagai kekuatan ekonomi baru di Asia Tenggara.
Bank Dunia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 4,8% pada 2025, naik dari estimasi sebelumnya yang berada di level 4,7%.
Namun, terdapat catatan penting di balik angka pertumbuhan tersebut. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya pergeseran struktur ekonomi di dalam negeri. Perekonomian Indonesia kini lebih besar ditopang oleh sektor jasa. Pada tahun 2000, sektor jasa menyumbang sekitar 45% dari total PDB, dan angka tersebut meningkat menjadi sekitar 55% pada tahun 2024.
Kondisi sebaliknya terjadi pada sektor manufaktur yang merupakan sektor vital penyerap tenaga kerja massal. Kontribusi manufaktur justru menunjukkan tren penurunan yang konsisten, atau sering disebut sebagai gejala deindustrialisasi dini.
Jika pada tahun 2000 kontribusi manufaktur mencapai 28%, angka tersebut terus merosot hingga hanya menyisakan sekitar 19% pada tahun 2024. Tantangan bagi Indonesia ke depan adalah bagaimana menjaga momentum pertumbuhan PDB yang tinggi tersebut sembari menguatkan kembali sektor industri agar mampu menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi generasi mudanya.
Tinggalkan Komentar
Komentar