Periskop.id - Di tengah perkembangan teknologi yang terus berlari kencang, sebuah istilah baru bernama Web 3 atau Web3 mulai mendominasi percakapan di Silicon Valley hingga pusat-pusat teknologi dunia. 

Web3 bukan sekadar tren sesaat, melainkan generasi ketiga dari teknologi web yang membawa visi besar mengenai desentralisasi, keamanan tingkat tinggi, dan privasi penuh bagi penggunanya.

Teknologi ini lahir sebagai jawaban atas kegelisahan masyarakat terhadap model Web2 yang saat ini kita gunakan. Pada era sekarang, kontrol data terpusat pada segelintir perusahaan raksasa, yang membuat data pengguna rentan terhadap kebocoran serta penyalahgunaan untuk kepentingan komersial sepihak. 

Secara sederhana, Web3 adalah era internet baru yang dibangun di atas fondasi teknologi blockchain, di mana kekuasaan tidak lagi berada di tangan perantara, melainkan di tangan pengguna itu sendiri.

Menelusuri Evolusi Internet dari Web1 hingga Web3

Untuk memahami mengapa Web3 begitu revolusioner, kita harus menengok kembali bagaimana internet berevolusi dalam tiga dekade terakhir. Perjalanan ini dibagi menjadi tiga fase utama, yakni:

1. Web1 (Era Read-Only: 1990 hingga 2004)

Pada fase awal ini, internet bersifat statis. Pengguna hanya bisa berperan sebagai pembaca informasi di situs web, layaknya membaca ensiklopedia digital. Tidak ada interaksi dua arah, dan pengguna tidak bisa mengunggah konten sendiri.

2. Web2 (Era Read-Write: 2004 hingga Sekarang)

Era yang kita jalani saat ini ditandai dengan lahirnya media sosial seperti Facebook, YouTube, dan TikTok. Internet menjadi dinamis dan memungkinkan semua orang menjadi pembuat konten. 

Namun, terdapat sisi gelap, di mana semua data dan konten yang kita buat dikuasai oleh perusahaan raksasa atau "Big Tech" seperti Google, Meta, dan Amazon. Kita bebas berkreasi, tetapi kita tidak memiliki kedaulatan atas data kita sendiri.

3. Web3 (Era Read-Write-Own: Masa Depan)

Inilah masa depan yang dijanjikan. Di era Web3, pengguna tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga memiliki bagian dari internet tersebut. Melalui teknologi blockchain, kepemilikan digital menjadi nyata tanpa harus bergantung pada perusahaan perantara.

Transisi dari Web2 Web3 melibatkan perubahan drastis pada arsitektur mendasar internet. Berikut adalah tabel perbandingan untuk melihat perbedaannya secara lebih jelas:

AspekWeb2Web3
ArsitekturTerpusat (server dikendalikan perusahaan besar)Terdesentralisasi (blockchain dan peer-to-peer)
Kepemilikan DataDimiliki dan dikelola oleh platformDimiliki penuh oleh pengguna
KeamananRentan kebocoran data jika server pusat diserangLebih aman berkat distribusi data di banyak node
PrivasiData sering digunakan untuk iklan dan analitikKontrol akses berbasis kriptografi yang ketat
MonetisasiPerusahaan memonetisasi data penggunaMelalui token, NFT, dan smart contract
Teknologi IntiCloud computing, API, aplikasi webBlockchain, AI, Semantik Web, Smart Contract
Contoh PlatformFacebook, YouTube, TwitterEthereum, IPFS, Decentraland, Lens Protocol

Keunggulan Teknologi Web3

Web3 menawarkan paradigma baru dalam menyimpan data. Jika Web2 mengandalkan server terpusat yang bisa mati atau diretas kapan saja, Web3 menyimpan aplikasi dan data di jaringan terdesentralisasi. Berikut adalah kelebihan utama yang ditawarkan:

  • Desentralisasi Penuh: Menghilangkan kebutuhan akan perantara dalam setiap transaksi online. Dengan blockchain, transaksi terjadi langsung antar pengguna (peer-to-peer), yang secara otomatis mengurangi biaya administrasi dan waktu proses.
  • Keamanan Kriptografi: Menggunakan enkripsi canggih, setiap data yang masuk harus divalidasi oleh seluruh jaringan. Hal ini membuat data hampir tidak mungkin untuk dimanipulasi atau diretas secara sepihak.
  • Kedaulatan Privasi: Pengguna memiliki "kunci" atas identitas mereka sendiri. Anda bisa memilih data mana yang ingin dibagikan dan kepada siapa, tanpa takut data tersebut dijual ke pihak pengiklan.
  • Transparansi dan Akuntabilitas: Karena sifat blockchain yang terbuka, semua transaksi dapat dilacak dan dilihat oleh publik. Ini menciptakan sistem yang jauh lebih jujur untuk sektor keuangan dan pemerintahan.

Tantangan Penggunaan Web3

Meskipun terdengar sangat ideal, Web3 masih menghadapi tembok besar sebelum bisa diadopsi secara masif oleh masyarakat umum. Setidaknya ada tiga tantangan utama:

1. Masalah Interoperabilitas

Saat ini, ekosistem Web3 masih terkotak-kotak. Banyak platform blockchain berjalan sendiri-sendiri tanpa bisa saling terhubung. Agar Web3 berjalan mulus, dibutuhkan standar universal agar data atau aset dari satu blockchain bisa berpindah ke blockchain lain tanpa kendala teknis yang rumit.

2. Integritas dan Kepercayaan Data

Di dunia Web3, data adalah aset berharga. Namun, memastikan bahwa data yang beredar itu akurat, dapat diverifikasi, dan tidak menyesatkan adalah tantangan tersendiri. Diperlukan mekanisme kurasi yang kuat untuk menilai kualitas sumber data di ruang yang tidak memiliki otoritas pusat.

3. Hambatan Pemahaman (User Experience)

Bagi orang awam, istilah seperti "private key", "seed phrase", atau "gas fee" terdengar seperti bahasa planet lain. Teknologi yang terasa terlalu canggih dan rumit ini membuat banyak orang enggan beralih. Web3 membutuhkan edukasi yang masif dan antarmuka pengguna yang jauh lebih simpel agar bisa diterima secara luas.

Aplikasi Web3 dalam Kehidupan Sehari-Hari

Web3 bukan hanya teori. Saat ini, teknologinya sudah mulai merasuk ke berbagai aspek kehidupan kita melalui aplikasi-aplikasi berikut:

  • Keuangan Terdesentralisasi (DeFi): Memungkinkan Anda meminjam uang atau berinvestasi tanpa melalui bank. Semuanya diatur oleh smart contract yang berjalan otomatis.
  • Identitas Digital: Anda memiliki satu identitas yang aman untuk masuk ke berbagai layanan online tanpa perlu mengungkap informasi pribadi berlebihan atau membuat ribuan akun berbeda.
  • NFT (Non-Fungible Token): Mengubah cara kita memandang karya seni dan koleksi digital. NFT memberikan bukti kepemilikan yang sah dan tak terbantahkan atas aset digital di blockchain.
  • Organisasi Otonom Terdesentralisasi (DAO): Bentuk organisasi masa depan yang tidak memiliki bos. Keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak dari komunitas melalui sistem voting berbasis token.

Hubungan antara Web3 dan blockchain juga sangatlah erat. Ambil contoh Bitcoin yang menggunakan blockchain untuk sistem pembayaran yang transparan dan aman tanpa otoritas pusat. Web3 membawa prinsip ini lebih jauh ke seluruh aspek internet.

Manfaat terbesar dari sinergi ini adalah perlindungan privasi. Dalam dunia digital tradisional, data kita sering dikumpulkan diam-diam oleh raksasa teknologi. Web3 mengubah aturan main ini dengan mencatat transaksi secara transparan namun tetap menjaga identitas asli pengguna melalui enkripsi. Data pribadi Anda tetap terlindungi dari akses yang tidak sah karena tidak ada server pusat yang bisa dibobol.

Lebih jauh, banyak proyek aset kripto yang saat ini menjadi tulang punggung pengembangan Web3. Berikut adalah beberapa contoh populer:

  1. Cardano (ADA): Blockchain yang dirancang sangat terukur dan hemat energi untuk mendukung aplikasi desentralisasi.
  2. Cosmos (ATOM): Dikenal sebagai "internet dari blockchain", tujuannya adalah menghubungkan berbagai jaringan blockchain agar bisa saling berkomunikasi.
  3. Polkadot (DOT): Jaringan yang memungkinkan pembuatan aplikasi dan protokol yang dapat berinteraksi antar rantai (cross-chain).
  4. Solana (SOL): Blockchain dengan kinerja sangat tinggi yang memungkinkan pemrosesan transaksi secepat kilat dengan biaya rendah.

Peluang Karier di Industri Web3

Seiring dengan mengalirnya investasi triliunan rupiah ke sektor ini, kebutuhan akan talenta profesional pun meledak. Berikut adalah 12 profesi yang paling diburu di industri Web3:

  1. Pengembang Smart Contract: Profesional yang menulis kode otomatis untuk transaksi di blockchain. Biasanya menggunakan bahasa pemrograman Solidity atau Rust. Keahlian utama yang dibutuhkan adalah kemampuan menulis kode yang sangat aman karena kesalahan kecil bisa berakibat hilangnya aset digital.
  2. Arsitek Blockchain: Bertanggung jawab mendesain keseluruhan sistem blockchain agar efisien, aman, dan dapat diandalkan. Mereka merancang protokol dasar dan mekanisme konsensus yang membuat blockchain berfungsi dengan baik.
  3. Manajer Komunitas: Di dunia Web3, komunitas adalah segalanya. Manajer komunitas bertugas menjaga interaksi di platform seperti Discord, Telegram, dan Twitter, serta memastikan suara pengguna didengar oleh pengembang.
  4. Penghubung Developer (Developer Relations): Berperan sebagai jembatan antara komunitas pengembang luar dengan tim internal proyek Web3. Mereka membantu pengembang lain untuk membangun aplikasi di atas ekosistem mereka.
  5. Peneliti Cryptocurrency: Bertugas menganalisis tren pasar, teknologi terbaru, serta risiko investasi. Peneliti ini memberikan wawasan fundamental dan teknikal bagi investor maupun perusahaan untuk mengambil keputusan strategis.
  6. Pemasaran Web3 (Web3 Marketing): Berbeda dengan pemasaran biasa, pemasar Web3 harus memahami dinamika komunitas kripto dan NFT. Mereka merancang kampanye kreatif untuk menarik pengguna baru ke dalam ekosistem desentralisasi.
  7. Pengembangan Bisnis Web3: Fokus pada penciptaan kemitraan strategis antar proyek, misalnya kolaborasi antara platform DeFi dengan proyek NFT untuk menciptakan peluang ekonomi baru.
  8. Analis Keamanan Siber (Cybersecurity Analyst): Karena transaksi blockchain bersifat permanen, peran ini sangat krusial. Mereka bertugas mencari celah dalam kode sebelum peretas menemukannya, guna melindungi aset triliunan rupiah yang tersimpan di jaringan.
  9. Penulis Konten Web3 (Content Writer): Bertugas menerjemahkan konsep teknis yang rumit menjadi artikel atau panduan yang mudah dimengerti masyarakat umum. Edukasi adalah kunci pertumbuhan Web3, sehingga peran penulis sangat dihargai.
  10. Pengembang (Developer) Umum: Kebutuhan akan software engineer yang mengerti cara mengintegrasikan aplikasi tradisional dengan dompet kripto atau jaringan blockchain terus meningkat tajam.
  11. Auditor Blockchain: Pihak ketiga yang melakukan audit mendalam terhadap keamanan kode smart contract. Tanpa sertifikat audit, sebuah proyek Web3 biasanya sulit mendapatkan kepercayaan dari investor.
  12. Spesialis Legal Blockchain: Karena regulasi kripto dan Web3 masih terus berkembang di setiap negara, peran ahli hukum sangat dibutuhkan untuk memastikan proyek mematuhi aturan pajak, privasi, dan legalitas internasional.