Periskop.id - Generasi Z dikenal sebagai kelompok yang paling lekat dengan internet. Namun, tingginya aktivitas digital tersebut belum diimbangi kebiasaan menjaga keamanan perangkat dan akun pribadi.

Survei terbaru Kaspersky menemukan sebanyak 52% responden Gen Z pernah menghadapi serangan siber yang melibatkan perangkat, akun daring, atau data pribadi mereka. Sebanyak 17% mengaku pernah kehilangan kendali atas akun media sosial akibat peretasan, sedangkan 12% kehilangan akses ke akun game.

Temuan tersebut berasal dari survei terhadap 7.200 responden di 18 negara, termasuk Indonesia, yang dilakukan pusat riset pasar internal Kaspersky pada Maret 2026. Karena survei bersifat global, angka tersebut menggambarkan kondisi keseluruhan responden Gen Z di negara-negara yang diteliti, bukan khusus Indonesia.

Aktif Berinternet, tetapi Proteksi Masih Rendah

Hasil penelitian menunjukkan 57 persen Gen Z menghabiskan lebih banyak waktu secara daring dibandingkan menjalani aktivitas tanpa internet. Persentase itu menjadi yang tertinggi dibandingkan generasi lain dalam survei tersebut.

Ponsel pintar menjadi pusat aktivitas digital mereka. Sebanyak 67% responden Gen Z menyebut ponsel sebagai perangkat utama yang digunakan untuk mengakses internet secara rutin.

Kedekatan dengan teknologi turut memunculkan kepercayaan diri. Hampir enam dari sepuluh responden atau 59% merasa percaya diri berada di lingkungan digital. Namun, hanya 28% yang menilai kemampuan digital mereka telah berada pada tingkat mahir.

Kesenjangan tersebut terlihat dari rendahnya penggunaan perlindungan keamanan. Hanya 27% responden Gen Z yang menggunakan perangkat lunak antivirus untuk perangkat seluler. Mereka juga tercatat lebih jarang mengganti kata sandi secara berkala dibandingkan generasi lainnya.

TechRadar turut menyoroti temuan tersebut dalam pemberitaannya pada 29 Juli 2026. Media teknologi itu menilai tingginya penggunaan ponsel tanpa perlindungan dan pencadangan data yang memadai dapat membuka akses terhadap dokumen identitas, akun email, media sosial, hingga informasi keuangan ketika perangkat berhasil diretas.

Data Penting Tersimpan di Ponsel

Rendahnya proteksi menjadi perhatian karena ponsel Gen Z menyimpan berbagai informasi yang dianggap penting. Sebanyak 38% responden menempatkan foto dan dokumen pribadi sebagai data yang sangat berharga. Sementara itu, 30% menganggap kata sandi dan informasi untuk masuk ke akun sebagai data penting.

Meski menyimpan informasi sensitif, hanya 28% responden Gen Z yang secara teratur mencadangkan data penting dari ponselnya. Padahal, peretasan perangkat dapat memberi pelaku akses terhadap foto pribadi, dokumen identitas, surat elektronik, akun media sosial, hingga layanan keuangan.

Temuan Kaspersky sejalan dengan Survei Global State of Authentication 2025 yang dilakukan Yubico bersama Talker Research terhadap 18.000 pekerja di sembilan negara. Survei tersebut menemukan 62% responden Gen Z pernah berinteraksi dengan pesan phishing dalam setahun terakhir, seperti mengeklik tautan atau membuka lampiran mencurigakan.

Persentase itu menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Secara keseluruhan, 44% responden survei Yubico mengaku pernah berinteraksi dengan pesan phishing, sedangkan 54% tidak mampu memastikan apakah contoh pesan yang diperlihatkan merupakan phishing atau pesan asli.

Risiko Keamanan Digital di Indonesia

Persoalan tersebut relevan bagi Indonesia karena penetrasi internet di kalangan anak muda sangat tinggi. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia atau APJII mencatat penetrasi internet nasional pada 2026 telah mencapai 81,72% atau sekitar 235,26 juta pengguna.

Pada kelompok Gen Z, tingkat penetrasi internet mencapai 89,02%. Internet paling banyak dimanfaatkan untuk komunikasi dan jejaring sosial, hiburan seperti streaming dan game, pencarian informasi, serta transaksi melalui layanan digital.

Survei APJII juga menemukan penipuan daring menjadi masalah keamanan digital yang paling banyak dialami masyarakat Indonesia pada 2026 dengan persentase 13,6%. Berikutnya adalah pencurian data pribadi, peretasan, dan phishing yang dialami 7,8% responden.

Data tersebut memperlihatkan bahwa semakin luasnya penggunaan internet juga perlu diikuti peningkatan literasi keamanan digital. Kemampuan memakai aplikasi dan menjelajahi berbagai platform belum tentu membuat seseorang mampu mengenali penipuan atau melindungi akun dari pengambilalihan.

Menurut Irina Ermilova, Wakil Presiden Manajemen Produk Konsumen di Kaspersky, generasi Z tumbuh di dunia online, sehingga layanan digital seringkali terasa intuitif dan familiar bagi mereka. “Namun, keakraban tidak boleh disamakan dengan keahlian keamanan,” serunya.

Ia menyebut, kemampuan menavigasi aplikasi, platform, dan perangkat dengan percaya diri tidak selalu berarti mampu mengidentifikasi penipuan, mengelola kata sandi dengan aman, atau melindungi data pribadi,.

“Temuan menunjukkan bahwa perlindungan dan kebiasaan keamanan siber perlu menjadi bagian alami dari kehidupan digital sehari-hari seperti halnya berkirim pesan, bermain game, atau menggunakan media sosial," tuturnya.

Untuk mengurangi risiko, pengguna disarankan memakai kata sandi yang kuat dan berbeda pada setiap akun, mengaktifkan autentikasi berlapis, memperbarui sistem operasi dan aplikasi, serta mencadangkan data secara rutin.

Pengguna juga perlu menghindari tautan dan lampiran dari sumber yang tidak dikenal. Ketika menggunakan jaringan Wi-Fi publik, informasi sensitif seperti kata sandi, data identitas, dan informasi keuangan sebaiknya tidak dikirim tanpa perlindungan koneksi yang memadai.