iklan periskop
Transportasi

Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Bulusaraung, Tim DVI Lakukan Identifikasi Korban

Tim DVI Polda Jabar ambil sampel DNA keluarga pramugari Esther Aprilita S, korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

6 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Bulusaraung, Tim DVI Lakukan Identifikasi Korban
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat saat mengambil sampel DNA keluarga pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Bogor, Jawa Barat, Minggu (18/1). ANTARA/HO-Polda Jabar
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat bergerak cepat setelah kabar jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Salah satu korban yang teridentifikasi sebagai awak kabin adalah pramugari bernama Esther Aprilita S.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menegaskan bahwa proses identifikasi korban dilakukan secara ilmiah dengan pengambilan data ante mortem dan sampel DNA pembanding dari keluarga. 

“Saat ini tim DVI Polda Jawa Barat berada di kediaman keluarga korban untuk mengambil data ante mortem serta DNA pembanding dari pihak keluarga,” ujarnya dikutip dari Antara, Minggu (18/1).

Pengambilan sampel dilakukan di rumah keluarga korban di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Menurut Hendra, langkah ini merupakan prosedur standar yang sangat penting untuk memastikan identitas korban secara akurat. Proses identifikasi berbasis DNA telah menjadi metode utama dalam penanganan kecelakaan besar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 13.17 WITA, saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar. 

Pesawat yang membawa 11 orang itu seharusnya tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada pukul 12.22 WITA. Namun, satu menit setelahnya, pesawat gagal mengikuti instruksi Air Traffic Control (ATC) Makassar Radar untuk melakukan intercept ILS runway 21 di ketinggian 5.300 kaki. Tak lama kemudian, pesawat dinyatakan hilang kontak.

Tim SAR gabungan akhirnya menemukan serpihan pesawat di lereng Gunung Bulusaraung. Lokasi jatuhnya pesawat berada di koordinat 04°57’08” lintang selatan dan 119°42’54” bujur timur, tepat di perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. 

Kondisi cuaca yang berkabut dan medan pegunungan yang terjal menjadi tantangan besar dalam proses evakuasi.

Menurut data dari Aviation Safety Network, kecelakaan pesawat ATR di Indonesia bukan kali pertama. Sejak 1990-an, beberapa insiden melibatkan pesawat jenis turboprop ini, yang dikenal andal untuk penerbangan jarak pendek namun tetap rentan terhadap faktor cuaca dan kondisi geografis. 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai kecelakaan pesawat, pesawat, dan maskapai penerbangan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.