periskop.id - Dunia dibuat gempar oleh kemunculan megatsunami setinggi 200 meter di kawasan Greenland Timur, tepatnya di Dickson Fjord. Dampak dari fenomena ini tidak hanya berskala lokal, tetapi juga menimbulkan getaran yang terasa secara global selama sembilan hari berturut-turut. Kemunculan sinyal getaran tersebut sempat membingungkan para peneliti karena menunjukkan pola yang tidak biasa.
Sempitnya wilayah Dickson Fjord menyebabkan gelombang air terus berosilasi dan menghantam tebing-tebing di sekitarnya. Selain itu, karena gelombang tersebut sulit keluar menuju laut lepas, energi air pun terperangkap sehingga gelombang terus bergejolak di area yang sama.
Menariknya, peristiwa ini sebenarnya terjadi pada tahun 2023, tetapi baru berhasil teridentifikasi sekitar setahun kemudian. Sejumlah peneliti menduga megatsunami tersebut dipicu oleh runtuhan longsor batuan es yang jatuh dan menghantam perairan. Longsoran ini diyakini berkaitan erat dengan pemanasan global yang mempercepat pencairan es.
Fenomena langka ini pun memicu rasa penasaran publik untuk mengenal lebih jauh tentang megatsunami. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya pencarian kata kunci “megatsunami” di Google, seiring dengan munculnya kabar fenomena ini di Greenland.
Pengertian Megatsunami
Melansir dari situs World Atlas, megatsunami merupakan fenomena gelombang raksasa yang terbentuk akibat perpindahan massa air secara tiba-tiba. Gelombang awal yang dihasilkan memiliki amplitudo sangat besar, bahkan dapat mencapai ratusan hingga ribuan meter.
Fenomena ini umumnya dipicu oleh peristiwa besar, seperti longsoran material dalam skala yang sangat masif atau benturan benda yang jatuh ke perairan, misalnya runtuhan batuan dari lereng bukit, jatuhnya meteor ke laut, maupun letusan gunung berapi. Tumbukan tersebut menyebabkan air berpindah dalam volume sangat besar dalam waktu yang singkat.
Walaupun megatsunami tergolong fenomena yang jarang terjadi, dampak yang ditimbulkannya sangat dahsyat. Fenomena ini bersifat sangat destruktif dan hampir mustahil untuk diatasi.
Peristiwa Megatsunami yang Pernah Terjadi
1. Letusan Gunung Krakatau (1883)
Gunung Krakatau meletus pada 26 Agustus 1883 dan menyebabkan kehancuran besar di pulau-pulau sekitarnya. Peristiwa ini memicu terjadinya megatsunami akibat material vulkanik yang runtuh dan jatuh ke laut dalam waktu sangat cepat. Dampak dari kejadian tersebut menghasilkan gelombang raksasa yang menewaskan ratusan korban jiwa.
Kekuatan gelombang bahkan menyebar hingga mencapai Afrika Selatan. Sementara itu, seluruh wilayah Kota Merak mengalami kerusakan yang sangat parah akibat dahsyatnya terjangan tsunami.
2. Teluk Lituya (1958)
Pada 9 Juni 1958, gempa bumi yang terjadi di Patahan Fairweather memicu longsoran batuan sekitar 40 juta yard kubik ke Teluk Lituya. Peristiwa ini menyebabkan perpindahan massa air dalam jumlah sangat besar hingga menghasilkan gelombang setinggi 1.710 kaki. Selain itu, dorongan udara yang kuat turut menyeret material longsoran sehingga memperbesar volume air yang terdorong.
3. Danau Spirit, Washington
Pada 18 Mei 1980, Gunung St. Helens mengalami letusan besar yang memicu longsoran material dalam jumlah besar. Magma yang mengendap di bawah tonjolan puncak gunung meledak secara tiba-tiba sehingga menghasilkan letusan yang sangat dahsyat. Material vulkanik yang terlempar kemudian jatuh dan menghantam Danau Spirit hingga membentuk gelombang raksasa. Akibatnya, air danau menyebar luas dan mencapai ketinggian hingga 853 kaki.
Peringatan Bahaya Bagi Dunia
Terjadinya megatsunami di kawasan Greenland Timur menjadi peringatan serius bagi dunia. Wilayah Arktik yang selama ini dikenal relatif stabil secara geologis kini mengalami perubahan geografis yang signifikan, seperti mencairnya es kutub. Perubahan tersebut tidak terlepas dari dampak pemanasan global yang semakin meningkat.
Para ahli menilai bahwa jika pemanasan global terus berlanjut, potensi terjadinya gelombang raksasa akibat runtuhan batuan es di Greenland dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Fenomena ini berisiko menimbulkan gangguan serius, mulai dari kerusakan ekosistem, terganggunya jalur pelayaran internasional, hingga ancaman terhadap wilayah pesisir utara akibat pergeseran gelombang air yang sangat kuat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman bencana alam tidak selalu hadir dari satu peristiwa, melainkan dapat muncul sebagai rangkaian kejadian yang terus terjadi, seperti longsoran material berskala besar dan perubahan geologi yang terjadi secara signifikan.
Tinggalkan Komentar
Komentar