Periskop.id - Kabar duka menyelimuti dunia hiburan Indonesia. Epy Kusnandar, aktor senior yang dikenal luas lewat perannya yang ikonik sebagai Muslihat atau "Kang Mus" di serial Preman Pensiun, telah meninggal dunia pada Rabu, 3 Desember 2025.

Kabar duka ini disampaikan oleh sang istri, Karina Ranau, melalui unggahan di media sosial, mengundang ucapan belasungkawa dari rekan sejawat dan penggemar. Jenazah almarhum rencananya akan dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada hari Kamis, 4 Desember 2025, pukul 08.00 WIB.

Kepergian Epy Kusnandar meninggalkan kesan yang mendalam, terutama melalui penokohan Kang Mus, sosok yang dikisahkan sebagai penerus Kang Bahar (Bos Preman) dalam sinetron populer tersebut. Karakter ini, yang bertubuh kecil kurus namun penuh karisma, membawa representasi unik mengenai maskulinitas, kesederhanaan, dan perjuangan menuju kebaikan.

Representasi Maskulinitas dan Nilai-Nilai Sunda

Kang Mus berhasil mendobrak stereotip mengenai sosok preman dan bahkan citra laki-laki Sunda dalam pandangan publik.

Sebagaimana dilansir oleh artikel jurnal berjudul “Representasi Citra Laki-Laki Budaya Sunda (Studi Analisis Semiotik Charles Sanders Peirce dalam Sinetron Preman Pensiun)”, salah satu adegan paling berkesan adalah ketika Kang Mus menjambak rambut anak buahnya yang bertubuh besar, Komar. Komar dimarahi karena suka menggoda perempuan.

Sikap Kang Mus dalam adegan tersebut memberikan makna mendalam, yakni meskipun pekerjaan yang dijalankan dianggap ‘kotor’ (dunia preman), hal itu tidak boleh ditambahkan dengan perbuatan tercela, salah satunya mengganggu perempuan, terutama bagi lelaki yang sudah beristri.

Sikap ini merepresentasikan nilai-nilai luhur Sunda. Di tengah pandangan bahwa kelompok preman tidak mempunyai aturan yang baik, sikap Kang Mus justru menunjukkan sebaliknya, dengan mengedepankan nilai Silih Asah, Silih Asuh, Silih Asih (saling menajamkan, saling mengasuh, saling mengasihi). Sebagai wakil pemimpin kelompok preman, Kang Mus tidak pernah bertindak semena-mena, melainkan memberikan saran, meluruskan hal yang salah, serta menjaga kehormatan orang tua dan perempuan.

Representasi Kang Mus sebagai laki-laki Sunda juga terlihat dalam kesederhanaan hidupnya. Dikutip oleh sumber yang sama, digambarkan Kang Mus duduk menyantap nasi dan telur ceplok, yang merupakan makanan kegemarannya yang selalu dibuatkan oleh sang istri.

Kang Mus tidak pernah menuntut istrinya untuk memasak hidangan mewah, karena memahami kekurangan istrinya yang hanya mahir membuat telur ceplok. Meskipun ia adalah orang kepercayaan Kang Bahar dan memiliki akses pada sumber daya, Kang Mus tidak pernah memanfaatkan posisinya untuk mencari keuntungan materi demi keluarganya.

Makna dari adegan ini adalah bahwa saling mengerti dan menghargai antara suami dan istri, serta menerima kesederhanaan, adalah kunci komunikasi dalam sebuah keluarga.

Perjuangan Taubat dan Krisis Ekonomi

Kisah Kang Mus juga menjadi cerminan tantangan dan kesungguhan orang untuk bertaubat.

Dalam artikel jurnal berjudul “Citra Preman Sopan dalam Sinetron Berjudul Preman Pensiun 4 di RCTI”, Kang Mus diceritakan telah menjadi pengusaha kecimpring semenjak memutuskan mengakhiri hidupnya sebagai preman. Namun, ia harus menelan kepahitan karena kerugian dari usaha kecimpringnya tersebut. Krisis ekonomi ini sangat berdampak pada kehidupan keluarganya, terutama karena putrinya, Safira, akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Meski sudah pensiun dan fokus pada usaha, Kang Mus masih memantau permasalahan di dunia preman dan masih disegani oleh anak-anak buah di bawahnya. Hal ini terlihat ketika ia menolak membantu Cecep dalam perebutan kekuasaan di terminal, setelah sebelumnya ia memberikan warning untuk tidak kembali ke dunia preman.

Mengutip studi berjudul “Representasi Perjalanan Taubat dalam Sinetron Preman Pensiun II (Analisis Semiotik terhadap Tokoh Kang Muslihat)”, tokoh Kang Mus adalah seorang pemimpin organisasi ilegal (preman) yang digambarkan sangat bertanggung jawab dan bersungguh-sungguh dalam memegang amanah yang dititipkan kepadanya.

Proses perjuangan Kang Mus untuk keluar dari organisasi ilegal karena ingin menuju jalan yang lebih baik adalah contoh yang baik, yang dapat dimaknai sebagai taubat.

Kisah Kang Mus menyoroti dilema yang dihadapi banyak orang, yakni sulitnya seseorang lepas dari lingkungan yang salah karena beragam alasan, seperti tanggung jawab yang diberikan, tuntutan ekonomi, atau hubungan sosial. Namun, perubahan dari yang sebelumnya dinilai buruk menuju kepada yang lebih baik dapat dimaknai sebagai taubat, dan setiap keinginan yang baik akan diberikan jalan oleh Sang Pencipta.