periskop.id - Belakangan ini media sosial heboh dengan rumor kedekatan Jungkook BTS dan Winter Aespa. Kabar tersebut mencuat setelah beberapa media memberitakan dugaan hubungan mereka, ditambah sejumlah kesamaan yang dianggap mencurigakan oleh para penggemar.
Kabar ini langsung memicu beragam reaksi dari ARMY dan MY, mulai dari yang santai dan mendukung, hingga ada juga yang merasa tidak terima karena idol favorit mereka dirumorkan dekat.
Fenomena ini makin heboh karena banyak penggemar menanggapi protes dari penggemar lain dengan ungkapan “Bias is mine”. Istilah itu digunakan untuk menunjukkan bahwa idol favorit mereka seolah hanya “milik” mereka dalam dunia fandom.
Apa Itu Bias Is Mine?
Kpopers dikenal sebagai fans yang super setia. Mereka nggak ragu keluar uang buat beli merchandise, meluangkan waktu buat streaming MV, sampai rajin voting di berbagai platform demi dukung idol mereka. Dukungan mereka juga kelihatan banget dari aplikasi X yang sering ramai dengan tagar yang mereka naikkan bareng-bareng.
Tapi, kalau rasa sayang ke idola sudah kelewat batas, itu bisa berubah jadi obsesi. Mengidolakan seseorang sih wajar banget, cuma kalau berlebihan justru bisa bikin nggak sehat buat diri sendiri. Dalam beberapa kasus, fans bisa mengalami yang namanya sindrom bias is mine, yaitu saat seseorang mulai bersikap terlalu posesif terhadap idol favoritnya.
Bias is mine (BIM) adalah sikap posesif yang kadang muncul di kalangan fans K-Pop. Biasanya, fans yang mengalami ini merasa idol favoritnya cuma milik mereka. Jadi, ketika idol tersebut dirumorkan dekat dengan seseorang, atau ada fans lain yang terlalu ngefans, mereka bisa langsung nggak suka. Fenomena ini juga dikenal dengan sebutan “Oppa is mine” dan biasanya muncul karena rasa sayang ke idol yang sudah kelewat batas.
Orang yang punya perilaku bias is mine sering kali menunjukkan ketidaksukaannya dengan cara yang berlebihan, bahkan sampai melakukan bullying. Misalnya, ketika idol favoritnya terlihat akrab dengan idol lain di suatu acara atau saat muncul rumor. Bahkan, jika ada konfirmasi bahwa sang idol sedang menjalin hubungan, mereka bisa langsung menyerang pihak yang terlibat.
Nggak cuma itu, sikap ini juga bisa ditujukan ke sesama fans. Misalnya, ketika ada penggemar lain yang suka berkhayal dekat dengan idolamu dan mendapat dukungan dari teman-temannya, kamu jadi merasa iri lalu mulai merundung orang itu.
Bentuk bullying yang dilakukan bisa macam-macam, seperti mengejek karena dianggap “halu”, bodyshaming, komentar bernada pelecehan, mengirim ancaman, sampai menyuruh orang tersebut untuk menyakiti dirinya sendiri.
Ciri-Ciri Penganut Bias is Mine
Seperti apa sih tanda-tandanya kalau kamu mulai mengalami bias is mine?
- Kamu merasa idolamu cuma “punyamu” seorang.
- Sering membayangkan punya hubungan khusus dengan sang idol.
- Nggak nyaman atau terganggu kalau ada fans lain yang juga ngefans berat pada idolamu.
- Merasa iri ketika penggemar lain dapat dukungan saat menunjukkan cintanya pada idolamu.
- Cemburu kalau idolamu terlihat akrab dengan artis lain atau individu tertentu.
- Nggak suka saat muncul rumor atau konfirmasi bahwa idolamu punya hubungan spesial dengan seseorang.
Tips Move On dari Sikap Bias Is Mine yang Berlebihan
Kenali dan Sadari Perasaan serta Pikiranmu
Saat kamu cenderung merasa posesif atau overthinking (misalnya terlalu sering curiga, takut kehilangan, over analis), sadari bahwa itu adalah pola pikir bukan fakta.
Tulis semua pikiranmu (ketakutan, kecemasan, curiga) agar bisa kamu telaah dan nilai secara jujur apakah itu berdasarkan realitas atau hanya asumsi atau ketakutan.
Ubah Pola Pikir, Latih Pikiran Rasional dan Realistis
Tantang pikiran negatif dan asumsi berlebihan, tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu punya bukti nyata untuk merasa takut dan curiga. Jika tidak, coba ubah asumsi menjadi lebih positif dan realistis.
Jangan terlalu keras atau menyalahkan diri sendiri jika kamu merasa insecure terima bahwa kecemasan atau perasaan itu wajar, tetapi tidak selalu mencerminkan kenyataan.
Bangun Kepercayaan pada Diri Sendiri dan Orang Lain
Komunikasi terbuka dan jujur sangat penting. Kalau kamu merasa cemas atau takut, alih-alih diam dan overthinking, bicarakan apa yang kamu rasakan secara tenang dan jelas.
Pelan-pelan latih kepercayaan pada orang lain dan dirimu sendiri. Ingat bahwa tidak semua pikiran negatif adalah fakta. Rasa percaya bisa membuat rasa posesif dan cemburu berkurang.
Kembangkan Kehidupan dan Identitas Sendiri (Independen)
Jangan bergantung penuh pada orang lain untuk kebahagiaan atau rasa aman. Punya hobi, tujuan, aktivitas, dan lingkaran sosial sendiri membantu menjaga keseimbangan dalam hidup.
Ketika fokus ke diri sendiri dan hal-hal positif di luar hubungan, kamu cenderung terhindar dari posesifitas yang destruktif.
Terima Kenyataan dan Lepaskan Hal di Luar Kendali
Sadari bahwa kamu tidak bisa mengontrol semuanya (pikiran, perasaan orang lain, masa depan). Belajar menerima ketidakpastian sebagai bagian dari hidup.
Fokus pada hal yang bisa kamu kontrol, pikiranmu sendiri, bagaimana kamu bersikap, bagaimana kamu menjaga kepercayaan dan integritas dirimu.
Tinggalkan Komentar
Komentar