periskop.id - Gempa bermagnitudo 7,6 mengguncang pesisir utara Jepang pada 8 Desember 2025. Getarannya terasa kuat di Prefektur Aomori dan wilayah sekitarnya. Karena pusat gempa berada di lepas pantai, pemerintah segera mengeluarkan peringatan tsunami.
Tidak lama kemudian, beberapa pelabuhan melaporkan gelombang tsunami hingga 70 cm. Sekilas terlihat kecil, tetapi arus tsunami sekecil apa pun dapat membawa benda berat, menggerus struktur di pesisir, dan mengancam keselamatan siapa pun yang berada di dekat pantai.
Apakah Tsunami Kecil Berbahaya?
Tsunami kecil, meskipun gelombangnya hanya 40 sampai 50 cm, tetap bisa membawa bahaya serius. Gelombang setinggi itu bisa menyebabkan genangan luas hingga menenggelamkan daratan pesisir, merusak dermaga, rumah, fasilitas pelabuhan, sekaligus membahayakan manusia.
Tsunami bukan gelombang biasa dari angin, melainkan terjadi ketika dasar laut bergerak tiba-tiba akibat gempa. Gerakan itu mendorong seluruh massa air dari dasar hingga permukaan sehingga gelombang menjalar cepat di laut.
Di tengah laut, tinggi gelombang tsunami sering tidak terlihat. Namun, saat mendekati pantai, air laut yang dangkal membuat gelombang melambat, energi terdorong ke atas, dan tinggi gelombang meningkat. Oleh karena itu, tsunami yang tampak kecil tetap berbahaya. Arusnya bisa sangat kuat dan mampu menyeret orang, kendaraan, hingga merusak bangunan di pesisir.
Tsunami kecil tetap bisa menimbulkan bahaya serius meskipun tinggi gelombangnya tidak terlalu besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa tsunami dengan tinggi kurang dari 50 cm masih bisa menimbulkan korban jiwa, terutama jika terjadi di teluk sempit atau pantai landai, yaitu ketika arus dan gelombang dapat menguat saat memasuki daratan.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) juga menjelaskan bahwa tsunami kecil pun membawa energi besar dalam kolom air laut. Arus yang dihasilkan bisa cukup kuat untuk menyeret manusia, merusak kapal, atau menghancurkan struktur di pesisir.
Berikut beberapa alasan mengapa tsunami kecil bisa sangat berbahaya.
- Genangan Air Bisa Menjangkau Jauh ke Daratan
Gelombang kecil bisa menggenangi area pesisir cukup jauh dari pantai. Dalam sejumlah kasus, air tsunami 50 cm mampu merembes hingga puluhan atau ratusan meter dari garis pantai, menggenangi permukiman, tambak, dan fasilitas di dataran rendah. - Kerusakan pada Bangunan dan Fasilitas Pesisir
Genangan dan gelombang, meskipun kecil, dapat merusak dermaga, rumah, jalan, fasilitas pelabuhan, tambak, atau lahan pertanian. Bangunan ringan atau struktur dekat pantai relatif rentan terhadap hantaman air. - Arus dan Energi Air yang Kuat
Tsunami bukan seperti ombak biasa dari angin. Tsunami terbentuk oleh perpindahan besar air laut akibat gangguan di dasar laut (misalnya gempa atau longsor bawah laut). Saat gelombang mendekati pantai, energi besar itu bisa menghasilkan arus deras yang cukup untuk menyeret manusia, kendaraan, kapal, atau puing-puing. - Efek Topografi Pantai Memperkuat Dampak
Bila pantai landai, berbentuk teluk sempit, atau ada muara sungai, gelombang kecil bisa terfokus dan membesar saat memasuki daratan. Ini meningkatkan daya rusak dibanding ukuran gelombang awal.
Oleh karena itu, meskipun tsunami terlihat kecil, setiap peringatan harus selalu diwaspadai. Warga pesisir disarankan untuk segera menjauhi pantai, mengikuti arahan evakuasi, dan memahami bahwa kekuatan gelombang tidak selalu terlihat dari tinggi airnya saja. Kesadaran dan kewaspadaan menjadi kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan meminimalkan kerusakan saat bencana ini terjadi.
Tinggalkan Komentar
Komentar