Periskop.id - Gempa kuat berkekuatan 7,5 Magnitudo melanda wilayah utara Jepang, pada Selasa (9/12). Guncangan ini berpusat di Prefektur Aomori bagian utara dan memicu peringatan tsunami di sepanjang pantai timur laut Pulau Honshu dan pantai timur Pulau Hokkaido.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Jepang (Japan Meteorological Agency/JMA) yang disadur oleh Antara, pusat gempa berada pada kedalaman 54 kilometer di lepas pantai timur Aomori. Gempa ini tercatat lebih dari enam pada skala intensitas tujuh poin Jepang, dengan tinggi maksimum tsunami tercatat mencapai 70 sentimeter. Peringatan tsunami tersebut dicabut sekitar enam jam setelah gempa terjadi.
Sebanyak 14 getaran susulan tercatat, dengan magnitudo berkisar antara 3,6 hingga 6,4 dan kedalaman antara 10 hingga 50 kilometer. Akibat insiden ini, sebanyak 30 orang dilaporkan mengalami luka-luka.
Jepang dan Inisiatif Penanggulangan Bencana Global
Dilansir dari Web Japan, Jepang bukanlah negara yang asing terhadap bencana. Negara tersebut secara konsisten mengalami berbagai peristiwa alam seperti gempa bumi, hujan ekstrem, dan aktivitas vulkanik. Oleh karena itu, Jepang terlibat aktif dalam berbagai inisiatif terkait penanggulangan bencana, memanfaatkan pengalaman pahitnya untuk mengembangkan teknologi mitigasi mutakhir.
1. Sistem dan Panduan Evakuasi Cepat dan Aman
Sejak tahun 2007, Jepang mempelopori sistem peringatan dini gempa yang terintegrasi dengan ponsel pintar. Sistem ini merupakan yang pertama di dunia.
Peringatan berbunyi segera sebelum gempa terjadi, berdasarkan getaran kecil awal yang datang beberapa detik atau puluhan detik sebelum gempa besar. Sistem ini memungkinkan masyarakat memiliki waktu berharga untuk bersiap evakuasi. Sistem ini mengandalkan seismometer milik Badan Meteorologi Jepang (sekitar 690 lokasi) dan jaringan observasi seismograf dari National Research Institute for Earth Science and Disaster Prevention (sekitar 1.000 lokasi).
Ponsel pintar juga dapat mengakses Layanan Papan Pesan Bencana dan berbagai aplikasi respons darurat. Pemerintah daerah, seperti di Tokyo, membagikan buku panduan bencana bernama "Tokyo Bosai (pencegahan bencana)" ke setiap rumah tangga. Panduan ini tersedia gratis di situs resmi dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Mandarin, dan Korea, membuktikan kesiapan Jepang dalam menghadapi bencana.
2. Penggunaan Drone dan Robot dalam Operasi Penyelamatan
Teknologi robotik kini dikembangkan khusus untuk penanganan bencana, meminimalkan risiko terhadap keselamatan manusia.
Sistem Drone "3rd Eye Drone System" dikembangkan untuk mendeteksi manusia melalui citra inframerah termal, menampilkannya dalam bentuk siluet tiga dimensi. Informasi ini segera dibagikan kepada tim penyelamat, membantu mereka menjangkau korban tanpa penundaan. Sistem ini diperkirakan akan diadopsi oleh dinas pemadam kebakaran dan kepolisian di masa depan.
Selain itu, robot penyelamat Quince dirancang untuk memasuki dan menyelidiki lokasi berbahaya, seperti fasilitas bawah tanah dan bagian dalam bangunan. Quince telah berhasil digunakan di lokasi gempa dan bencana lainnya.
3. Teknologi Prediksi Hujan dan Tsunami
Jepang juga terus meningkatkan kemampuan prediksinya terhadap fenomena alam yang sulit dikontrol.
Aplikasi gratis kini tersedia untuk memprediksi hujan lokal mendadak yang dikenal sebagai "guerrilla rainstorms". Aplikasi ini menggunakan radar yang mampu mengukur awan hujan dalam tiga dimensi untuk menentukan tanda-tanda terjadinya badai mendadak.
Tidak hanya itu,sebuah sistem yang dipimpin oleh Universitas Tohoku telah dikembangkan untuk memperkirakan ketinggian tsunami, area jangkauan, jumlah orang dalam zona bahaya, serta tingkat kerusakan bangunan setelah gempa besar. Informasi ini dapat disebarkan dalam waktu 30 menit, sangat vital untuk upaya penyelamatan.
Jepang telah berhasil mengekspor teknologi pencegahan bencana ini ke berbagai negara, termasuk teknologi pengendalian banjir ke Thailand, teknologi pengendalian dan peredam gempa ke Turki, serta teknologi perlindungan tsunami ke Chile, menegaskan peran Jepang sebagai pemimpin global dalam mitigasi bencana.
Tinggalkan Komentar
Komentar