Periskop.id - Nama influencer Ayu Aulia menjadi pusat perbincangan publik setelah rangkaian kejadian yang memicu kontroversi di jagat maya. Isu paling hangat bermula dari unggahan di media sosial pribadinya yang mengklaim bahwa dirinya telah dilantik sebagai bagian dari tim kreatif Kementerian Pertahanan (Kemhan). 

Dalam unggahan yang viral tersebut, ia menyertakan dokumentasi kegiatan di lingkungan kementerian lengkap dengan keterangan "Pelantikan" yang memicu spekulasi luas.

Namun, klaim tersebut segera dipatahkan oleh otoritas terkait. Dilansir dari Antara, pihak Kementerian Pertahanan melalui Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kemhan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, memberikan bantahan tegas pada Jumat (26/12).

Brigjen Rico menyampaikan fakta bahwa Ayu sama sekali bukan pegawai kementerian. Ia ditegaskan tidak memiliki penugasan apa pun, baik secara struktural maupun non struktural di lingkungan Kemhan. 

Kehadirannya di area kementerian diketahui hanya sebagai tamu, tepatnya sebagai bagian dari tim kreatif sebuah organisasi kemasyarakatan (Ormas) bernama Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia (GBN-MI) yang kebetulan sedang menyelenggarakan acara di lokasi tersebut.

Rangkaian Kontroversi

Selain masalah dengan instansi negara, Ayu juga terseret dalam polemik panas yang melibatkan Lisa Mariana dan Ridwan Kamil. Ia dituding sebagai pihak yang memperkenalkan keduanya dalam sebuah konteks yang kontroversial. 

Menanggapi hal ini, pada pertengahan Desember 2025, Ayu membantah keras tuduhan tersebut. Ia mengaku memiliki bukti kuat berupa percakapan langsung (direct message) yang menunjukkan bahwa inisiatif komunikasi bukan berasal darinya, melainkan dari pihak lain.

Terseretnya nama Ayu dalam dua kasus besar secara beruntun memicu persepsi publik bahwa ada tendensi kesengajaan untuk tetap berada di bawah lampu sorot melalui berita-berita miring. Dalam dunia ekonomi digital, fenomena ini dikenal dengan istilah attention economy.

Memahami Logika Attention Economy: Perhatian sebagai Mata Uang

Isu kontroversi Ayu dapat dijelaskan melalui kacamata akademis. Merujuk pada artikel jurnal berjudul “Paying Attention: Towards A Critique of The Attention Economy” oleh Patrick Crogan dan Samuel Kinsley, ditegaskan bahwa di era digital, perhatian manusia bukan lagi sekadar respons psikologis, melainkan sebuah komoditas atau barang yang bisa diperdagangkan.

Studi ini mengangkat topik ekonomi perhatian sebagai kondisi di mana fokus manusia dianggap sebagai sumber daya yang sangat langka dan bernilai, setara dengan uang atau bahan mentah. 

Karena kapasitas manusia untuk memperhatikan sesuatu sangat terbatas di tengah banjir informasi, berbagai industri dan individu kini berlomba lomba untuk merebutnya dengan cara apa pun, termasuk melalui kontroversi.

Konsep attention economy atau ekonomi perhatian yang berkembang sejak 1990-an ini menjadi dasar praktik dunia digital saat ini, mulai dari persaingan mendapatkan klik, tayangan (views), hingga waktu layar (screen time).

Dalam jurnal tersebut, para peneliti menjelaskan empat cara utama untuk memahami fenomena ini, yakni:

  1. Saat informasi melimpah, perhatian manusia justru menyusut drastis. Hal ini membuat "perhatian" menjadi sumber daya paling langka.
  2. Kemampuan berpikir dan memperhatikan manusia kini dijadikan bentuk kerja yang tidak berwujud namun bernilai ekonomi tinggi.
  3. Para filsuf melihat sistem saraf manusia sebagai wilayah politik baru karena perhatian berkaitan langsung dengan cara kerja otak dalam menyaring informasi.
  4. Internet dianggap menurunkan nilai konsentrasi karena manusia terus dibanjiri gambar dan hiburan yang memicu reaksi cepat namun dangkal.

Lebih lanjut, kritik utama dalam studi Crogan dan Kinsley adalah bagaimana perhatian kini hanya dihitung secara kuantitatif. Tidak peduli apakah perhatian itu datang dari rasa suka atau benci (hate watching), yang terpenting adalah angka keterlibatan tersebut tercatat dalam algoritma.

Beberapa pemikir dalam studi tersebut berpendapat bahwa perhatian bersifat tahan lama. Jika seseorang seperti Ayu sudah berhasil mendapatkan perhatian publik melalui sebuah isu besar, ia akan lebih mudah mendapatkan perhatian lagi di masa depan. 

Dalam pandangan ini, perhatian berubah menjadi kekayaan atau aset digital yang bisa dikonversi menjadi keuntungan pribadi, mulai dari endorsement hingga popularitas yang konsisten.

Pada akhirnya, apa yang terlihat sebagai sebuah skandal atau kekeliruan informasi di media sosial, sering kali merupakan bagian dari desain besar dalam attention economy. Kemampuan manusia untuk memberikan fokus kini telah dieksploitasi secara ekonomi, di mana batas antara kebenaran informasi dan pencarian atensi menjadi semakin kabur.